Dunia Lingga

Kelola Buku Kita, Agen Virus Baca



Kegiatan membaca di Indonesia masih dianggap kegiatan belajar yang melelahkan. Ini berdasarkan penelitian UNESCO yang mengungkap minat membaca masyarakat Indonesia yang minim, yakni satu buku berbanding seribu orang.

Jejalan informasi dan teknologi seakan membuat kegiatan membaca hanya dilakukan di sekolah. Hal inilah yang melatarbelakangi pendirian komunitas Kelola Buku Kita (Kebukit). Komunitas yang didirikan atas inisiatif para pecinta buku dan ilmu ini sudah ada di Bandung sejak tahun 2006.

Adalah Neneng Aminah yang akrab disapa Enji ini merupakan salah satu pendiri Kebukit. Enji dan keempat teman lainnya mulai mengumpulkan buku bacaan di sebuah kotak dengan tujuan agar teman-teman lain dapat meminjam dan membaca buku tersebut.

Hari demi hari, kata Enji, teman-teman lain akhirnya tertarik untuk menitipkan buku mereka di kotak tersebut.  "Karena titipan buku semakin banyak, kami mulai mengontrak rumah,"ujar Enji.

Di tahun 2007, Enji dan teman-temannya yang saat itu masih kuliah harus membayar kontrakan rumah senilai Rp 8 juta. Untuk menutupi biaya kontrak rumah, mereka menabung per orang Rp 100 ribu dan mendapat proyek dari Rumah Amal ITB. Kebukit juga sempat menyimpan koleksi buku mereka di pelataran rumah seorang teman.

Dukungan pun terus berdatangan dari berbagai pihak. Sehingga pada tangggal 29 Desember 2007, Kebukit diresmikan menjadi taman baca dan menjadi agen virus baca. Keanggotaan Kebukit semakin meluas tak hanya mahasiswa, tapi ibu-ibu rumah tangga hingga karyawan swasta. Hingga saat ini, terdapat 150 anggota Kebukit. Untuk menjadi anggota pun sangat mudah. Yakni hanya meminjamkan lima buku dan kemudian dititipkan ke Kebukit.

"Kalaupun ingin keluar dari keanggotaan, buku bisa diambil dan dikembalikan ke pemiliknya,"kata dia.

Kebukit yang berlokasi di Jalan Turangga Bandung ini menyalurkan semangat membaca dengan membuka perpustakaan di daerah-daerah lain seperti Kebukit Maumere, Kebukit Cirebon dan beberapa taman baca lain. "Kalau ada teman-teman yang ingin membuka taman baca seperti Kebukit silakan, //nggak// harus namanya Kebukit,"kata dia.



Untuk saat ini, ujar Enji, Kebukit fokus kepada penyaluran buku ke daerah-daerah terpencil. Belum lama ini, Kebukit bersama perpustakaan RSN mengadakan Gerakan Peduli Muslim Flores (GPMF). Gerakan ini, kata Enji, adalah gerakan yang dilatarbelakangi kepedulian kepada kaum muslim minoritas di Indonesia bagian Timur yang kesulitan dalam memperoleh fasilitas keagamaan seperti Al-Quran terjemahan, buku Iqra, dan juga buku mengenai keagamaan. Saat itu, terkumpul 3.000 Alquran dan 1.000 buku iqro dari donasi masyarakat.

"Di Maumere, satu buku iqro dibaca oleh seratus orang. Bayangkan betapa sulitnya mereka mengakses buku,"ujar dia.

Di tahun 2012, Kebukit mengunjungi Desa Bungbulang Garut dalam rangka Gerakan Buku 10 Ribu. Donasi yang diterima Kebukit berupa uang, beberapa buku anak-anak, dan jilbab anak. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas di Bandung.

"Kegiatan kami disana tidak hanya memberikan bantuan tetapi juga memberikan semacam seminar untuk penggiatan minat baca  khususnya ibu-ibu,"kata dia.

Kebukit mempunyai banyak program mencerdaskan masyarakat sekitar. Seperti One Book For One Library yakni pengumpulan buku untuk menghidupkan perpustakaan di daerah, Dari Buku Banyak Tau, program mengukur minat baca, Open Book atau media promo para penulis buku, dan Bumikan Buku dengan Aksi yakni program aplikasi bahan bacaan buku dengan aksi nyata.

Di tahun 2013, Kebukit menggalakkan Gerakan Cerdas Membaca. Gerakan ini merupakan ekspedisi ke tiga kepulauan Mentawai. "Kami akan melakukan pendampingan ke pulau-pulau terpencil yang sulit mengakses buku,"kata dia.

Pendiri Kebukit lainnya, Riska berharap, Kebukit dapat menjadi komunitas terdepan dalam pengembangan  minat baca dan penyadaran potensi kecerdasan masyarakat. Kebukit juga dapat mendirikan perpustakaan dan taman bacaan komunitas di setiap daerah di Indonesia.

"Kami juga akan terus mengembangkan potensi kecerdasan masyarakat melalui metode Multiple Intelligences,"ujar dia.


Tingkatkan Baca dengan Story Telling dan Pendampingan


Tidak ada cara paling efektif meningkatkan minat baca anak-anak selain story telling. Hal inilah yang dikatakan Enji, salah satu pendiri Kebukit. Bercerita, kata Enji, sangat memancing minat anak untuk membaca.

Ia mencontohkan, ia bercerita mengenai sebuah buku yang telah dibacanya. Cerita yang disajikan tentu harus komunikatif dan menarik minat anak. "Misalnya saya cerita tentang buku 5cm, saya ceritakan isinya dan saya gantung akhir ceritanya. Sehingga anak-anak penasaran ingin membaca,"ujar dia.

Selama ini, kata Enji, upaya pemerintah dalam meningkatkan minat baca hanya sebatas pengadaan buku dan perbaikan infrastruktur. Padahal, dengan mendampingi anak-anak dalam menularkan virus membaca melalui bercerita juga sangat penting.

"Kekuatan penularan virus baca adalah, kita menceritakan yang kita baca,"ujar dia.

Kekuatan minat baca juga dapat melalui pendampingan. Semakin seorang anak mengikuti pendampingan, semakin mudah meningkatkan minat baca mereka. Pendampingan tersebut biasanya berupa motivasi untuk membaca dan tes pintar menggali potensi diri melalui membaca.

"Rata-rata mereka tidak sadar akan potensi dirinya. Dan membaca adalah salah satu caranya menggali potensi anak,"ujar dia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kelola Buku Kita, Agen Virus Baca"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)