Dunia Lingga

Amerikanisasi, Japanisasi, dan Gelombang Korea (tulisan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan)

ada tulisan menarik dari wartawan senior Republika, Teguh Setiawan. Saya coba share di blog semoga Pak Teguh berkenan. Menyoal budaya k-pop dan perkembangannya.



Amerikanisasi, Japanisasi, dan Gelombang Korea
Pelaku industri K-Pop mengeksploitasi keunggulan tubuh wanita Korea, teknologi bedah plastik, untuk mengakhiri demam J-Pop dan menaklukan Asia.

Kebanyakan tulisan tentang K-Pop, seperti Anda bisa temukan di ratusan situs, cenderung hanya bercerita tentang perjalanan perkembangan budaya pop Korea Selatan (selan jutnya disebut Korea) yang dimulai tahun 1990-an. Tom Dixon, dalam The Journey of Cultural Globalization in Korean Pop Music, berusaha melihat lebih jauh lagi.

Fenomena K-Pop memang diawali sukses drama What Is Love All About, yang ditayangkan salah satu televisi Cina tahun 1997. Dilanjutkan serbuan HOT, boyband yang beranggotakan lima remaja yang melantunkan tiga hits; We Are the Future, Candy and Warrior’s Descent.

HOT ternyata tidak sedang sesumbar ketika menyebut dirinya, atau musik pop Korea, sebagai the future. Mereka menjadi ‘berhala’ hidup bagi remajaremaja ras ku ning Asia; Jepang, Vietnam, Taiwan, dan Cina, selama dua tahun. Kwan Boa, artis wanita yang lebih di kenal dengan BoA dan menggunakan nama panggung Beat of Angel, melanjutkannya. Ia menaklukan Jepang dengan penjualan satu juta keping single Listen to My Heart di tahun 2001.

Terobosan luar biasa dibuat serial televisi Winter Sonata di tahun 2003. Film ini meraih sukses besar di Jepang, Cina, Taiwan, Thailand, dan Filipina, dan memapankan kehadiran K-Pop sebagai the future di Asia.

Hanya sedikit yang berusaha menjelaskan fenomena K-Pop dari segi politik, ekonomi, dan rivalitas geopolotik dan geo ekonomi di kawasan Asia Timur. Lebih penting lagi, terlalu sedikit penjelasan dari banyak peneliti tentang motivasi Korea di balik pengembangan K-Pop.

Tom Dixon adalah salah satu dari sedikit penulis yang berusaha menjelaskan K-Pop secara sosiologis, politis, dan me ngaitkannya dengan rivalitas geopolitik di Asia Timur antara Jepang dan Ko rea. Dixon juga memaparkan tiga peristiwa politik yang membentuk identitas budaya Korea, dan menjelaskan fenomena K-Pop dalam kebangkitan ekonomi Korsel.

Amerikanisasi. Japanisasi 
Korea bukan kekuatan tradisional budaya pop di Asia, tapi negeri yang terjepit dua raksasa; Jepang dan Cina. Sebelum kedatangan Jepang, Korea berada dalam pengaruh Cina. Jepang berusaha merebutnya sejak 1870, dan baru berhasil tahun 1910.

Jepang menjajah Korea selama 30 tahun. Penjajahan menimbulkan luka, yang digunakan pemimpin-pemimpin Ko rea; se latan atau utara, untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan memotivasi rakyat ne geri itu untuk membangun diri dan mengungguli Jepang.

Tahun 1945, Jepang meninggalkan Ko rea. Sebagai gantinya, pasukan AS datang dan menetap di Korea Selatan untuk melindungi negeri itu dari invasi komunis Korea Utara yang didukung Cina.

Kehadiran pasukan AS member i pengaruh luar biasa bagi kehidupan sosial Korea. Mu sik Pop, yang kali pertama diterima sebagai pengaruh asing untuk menggantikan musik tradisional, diperkenalkan di Korea.

Pengenalan musik pop di Korea adalah bagian dari Perang Dingin. AS menjadikan Korsel sebagai bagian kebijakan militer dan diplomatik global, yang secara bersamaan ditempatkan di bawah pengaruh budaya berideologi Amerika.

Rakyat Korsel menyebut pasukan AS sebagai pembebas dari penindasan Jepang, dan pelindung dari serangan komunis. Kontak langsung antara tentara AS dan penduduk menyebabkan penyebaran budaya AS terjadi dengan cepat.

Kota-kota di Korsel berkembang se demikian rupa, dan menyediakan layanan hi buran untuk pasukan AS. Tentara AS juga mendirikan radio, sebagai upaya me lawan propaganda komunis. Lewat ra dio inilah kali pertama orang-orang Korea mendengarkan musik Barat secara bebas. Amerikanisasi terjadi dengan cepat.

Amerikanisasi diidentifikasi rakyat Ko rea sebagai modernisasi. Musisi Ko rea berbondong-bondong mulai belajar memainkan musik pop AS, mengadaptasi gaya bernyanyi artis-artis Paman Sam dan Eropa. Lebih penting lagi, mereka juga mempelajari metode produksi dan pembangunan industri hiburan.

Di seberang lautan, Jepang bangkit da ri kekalahan Perang Pasifik dan men jadi adidaya ekonomi. Jepang lebih dulu menginternalisasi budaya pop, me nyesuaikannya dengan budaya lokal, dan berusaha memperkenalkannya kembali ke dunia yang lebih luas sebagai budaya pop negeri sendiri. Secara tradisional, sasaran pertama ekspansi produk budaya pop Jepang adalah Korea.

Korea membentengi diri dari pengaruh Jepang, dengan melarang apa pun produk budaya dan industri manufaktur dari negeri Matahari Terbit. Di sisi lain, Korea juga berusaha membendung pengaruh komunis, dengan ‘memaksa’ musisi dan seniman memihak ke pemerintah.

Selama kekuasaan diktator milier, Ko rea sepenuhnya tergantung pada citra AS. Namun, budaya pop AS pula bersamaan dengan sukses pembangunan ekonomi dan meningkatnya kelas me nengah yang membangun kesadaran akan demokratisasi dan perlawanan terhadap rejim militer.

Perlawanan terhadap rejim militer dibarengi dengan kecenderungan untuk berpaling dari AS. Korea tidak ingin lagi menjadi penerima derma budaya pop AS, tapi berusaha merangkul pengaruh lain di sekitarnya.

Tahun 1990-an, Jepang menikmati suk ses ekonomi tertinggi dalam sejarah. Korea tenggelam dalam kekecewaan ke pada AS. Munculah serbuan produk budaya Je pang ke Korea. Pemerintah Korea tidak bisa mencegah semua ini, sampai akhirnya mencabut larangan ekspor budaya Jepang pada 1998.

Anak-anak muda Korea terjang kiti demam Aidoru, dan bebas meng kon sumsi setelah pemerintah Ko rea mencabut la rangan masuknya pro duk budaya Jepang. J-Pop menjadi pesaing musik AS, tapi tidak menggantikannya.

Beberapa pakar berupaya menjelaskan sukses J-Pop di Korea dengan berbagai cara. Salah satunya, kedekatan budaya. Bahwa, J-Pop populer di Korea karena kesamaan karakter penonton kedua bangsa.

Lainnya mengatakan J-Pop hanya memperlihatkan sedikit karakteristik Je pang, sehingga lebih menarik ketimbang yang murni Jepang. Lebih dari itu, J-Pop lebih mengandung nilai-nilai universial Asia.

Satu hal yang tidak boleh dilupa ada lah J-Pop menggunakan teknologi dan metode produksi dan distribusi AS. Jepang mampu menginternalisasi atau melokalisasi budaya pop dari AS, disesuaikan dengan selera pasar mereka, dan mengekspornya dengan cara inovatif.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah ekspor budaya Jepang berkaitan erat dengan penemuan Karaoke oleh Daisuke Inoue. Karaoke, yang kali pertama diperkenalkan Inoue tahun 1971, memungkinkan orang Korea menggerakan pinggul atau menirukan gerak penyanyi Jepang idola mereka.

Teknologi lain yang mempercepat Japanisasi adalah kemunculan tele visi satelit. Jepang tidak perlu lagi menawarkan produk budayanya di pinggir jalan-jalan Seoul, tapi langsung ke rumah-rumah. Artis Jepang, terutama yang menjadi idola dan memiliki pasar di Korea, didorong untuk mempelajari bahasa Korea agar mereka bisa lebih dekat dan terus mendekat dengan massa negeri semenanjung itu. Lebih menarik lagi, produsen budaya pop Jepang membuka diri terhadap masuknya artis Korea dan menjadikannya bagian dari J-Pop.

Khusus yang terakhir, seorang peneliti J-Pop mengatakan Jepang melakukan semua itu untuk menghindari tuduhan bahwa mereka sedang menginvasi Korea, menjajah negeri semenanjung itu lewat budaya. Artinya, tidak boleh lagi ada kesan Jepang adalah imperialis, yang akan terus berupaya menjajah Korea.

K-Pop 
Krisis finansial 1997 yang melanda Asia membuat Korea mengalami penurun an status. Korea bukan lagi negara mak mur, dan kekuatan ekonomi. Banyak perusahaan multinasional Korea bangkrut, dan nyaris berpindah tangan ke investor AS dan Jepang.

Skenario pemulihan yang ditawarkan International Monetary Fund (IMF) hanya membuat bangsa Korea merasa terhina. PemerintahKorea bertekad meraih kem bali status bangsa sebagai salah satu kekuatan ekonomi di Asia. Caranya, Korea harus bisa kembali berproduksi, agar bisa mengeksploitasi pasar.

Pengalaman ‘terjajah’ budaya AS, dan belajar dari cara Jepang menguasai pasar Asia lewat ekspor produk budaya pop, menyadarkan pemerintah Ko rea akan pentingnya membangun in dustri budaya pop sendiri. Terlebih, Korea menemukan bahwa banyak orang Asia mengidentifikasi LG, Samsung, dan Hyundai, sebagai perusahaan Jepang, bukan Korea.

Langkah pertama yang dilakukan Korea adalah membuat film-film yang menampilkan citra modern masyarakat dan negaranya, lengkap dengan suasana kota, dan kehidupannya yang menarik. Setelah film-film meraih sukses di dalam negeri, barulah diekspor ke sejumlah negara termasuk Jepang.

Di bidang musik, pelaku industri bu daya pop Korea mempersiapkan calon artisnya sedemikian lama; melatih mereka menari, menyanyi, dan mengubah bentuk fisik mereka lewat operasi plastik agar menjadi benar-benar sosok idola remaja Asia.

Gadis-gadis Korea ditampilkan de ngan tubuh ramping, seksi, bentuk kaki proporsional, dan wajah yang sepenuhnya hasil operasi plastik. Jika Anda perha ti kan gambar-gambar girl-band Korea, seluruhnya nyaris memperlihatkan kebang gaan mereka akan bentuk kaki dan wajah. Di setiap konser, girl-band kerap tampil dengan hotpants, atau pakaian yang memperlihatkan hampir seluruh bagian paha.

Semua ini, awalnya, dimaksudkan untuk mengakhiri popularitas artis-artis Jepang, yang tidak mungkin tampil seperti itu karena memiliki kaki lebih pendek. Bagi pelaku industri K-Pop, tubuh wanita Korea yang relatif lebih tinggi dibanding bangsa ras kuning lainnya, adalah ko moditi unggulan.

Stelah Kwan Boa mencapai po pula ritas, yang kemudian diikuti girl-band lain nya, Korean Wave di Cina disebut Hallyu dimulai. Gelombang itu semakin kuat dalam sepuluh tahun terakhir, terutama sejak pergelaran Piala Dunia 2002, Seperti Jepang, lewat industri budaya pop Korea mampu mengatasi keterbatasan pengaruhnya di kawasan Asia, bahkan dunia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Amerikanisasi, Japanisasi, dan Gelombang Korea (tulisan wartawan senior Republika, Teguh Setiawan)"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)