Dunia Lingga

Dalang Cilik Teruskan Budaya Sunda



Riuh tepuk tangan penonton membahana ketika sekelompok dalang cilik serempak mengangkat simbol gunungan yang tertancap di batang pisang. Diangkatnya simbol gunungan itu, sebagai pertanda bahwa pertunjukan wayang golek dimulai. Penonton kembali bertepuk tangan dan sesekali mengabadikan momen tersebut.

Kelimanya memainkan cerita Helar Ngipuk yang berisi pesan penanaman pohon kembali. Mereka menampilkan sejumlah tokoh wayang golek seperti Gatotkaca, Antareja, Jaka Tawang, Hanoman, Setiaki, dan para punakawan serta para buta. Di ceritakan dalam wayang tersebut, para buta menebang pohon sebagai simbol buruk. Di lain pihak, datanglah Gatotkaca yang merepresentasikan simbol baik agar manusia tidak menebang pohon sembarangan. 

Kelima bocah itu adalah cucu-cucu dari dalang terkenal di Indonesia yang sedang mempertunjukkan keahlian mereka di acara Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-55 Baranang Bentang Ipukan di Grha Sanusi Unpad, Rabu (30/1). Mereka adalah Muhammad Faizal Rafli Sunandar (13 tahun), Kanha Sandika Ade Kosasih Sunarya (9), Sandi Ningrat Ade Kosasih Sunarya (9), Raka Albari Sunarya (9), dan Baskara Zaki Sunarya (9). 

Kelimanya berasal dari Padepokan Wayang Golek Giriharja, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Kanha Sandika didapuk sebagai dalang utama atau pancer. Sementara empat dalang cilik lainnya menjadi pendamping saat rampak dalang. Mereka bertugas sebagai dalang pendamping karena sejumlah babak cerita harus dimainkan dengan beberapa tokoh wayang sekaligus. Rampak dalang melibatkan beberapa dalang untuk menampilkan satu cerita tertentu.

Kanha, bocah yang baru duduk di kelas empat SD ini mengaku tidak grogi saat tampil didepan ratusan penonton. Ia mengaku, setiap hari sering melatih diri untuk mendalang. Sang Ayah, Irwansyah mengatakan, Kanha memang sudah menyukai kesenian Sunda sejak umur tiga tahun. "Kanha melihat dari kakeknya yang juga pedalang, sejak kecil terlihat bakatnya, suka mengadu dua sikat gigi jika sedang mandi,"ujar Irwansyah. 

Kelima dalang cilik itu memang fenomenal. Tak seperti anak-anak kecil lain yang menghabiskan waktunya untuk bermain, kelimanya rutin latihan tanpa disuruh oleh orang tua. Mereka juga sering diundang dalam pesta khitanan, ulang tahun, maupun acara sekolah. "Alhamdulillah tidak pernah saya paksa untuk mengikuti kegiatan seperti ini,"jelas Irwansyah. Belum lama ini, mereka tampil di sebuah acara stasiun televisi swasta berjudul ”Pojok Si Cepot".

Keahlian berbeda juga diperlihatkan Yoga Prabu Pradana (13). Yoga membawakan kawih Sunda dengan apik. Sebagian penonton seakan terhanyut dengan suara Yoga yang merdu. //Urang nabeuh yuk gamelan sunda, patingtung tingpak sora gendang ditepak (Kita tabuh gamelan Sunda, suara bertaluan dari gendang yang dipukul)//. Begitulah sepenggal lirik kawih yang dibawakan Yoga. Kawih yang dibawakannya berjudul Waditra, berisi pesan untuk tetap melestarikan gamelan Sunda.

Disusul kemudian, pertunjukkan Rampak Kendang dari Padepokan Karang Kamulyan. Rampak Kendang dibawakan secara bersama-sama atau //babarengan//. Kendang sendiri  merupakan sajian kesenian yang memainkan kendang (Gendang) lebih dari satu perangkat secara bersama-sama. Terlihat, para pemain rampak kendang dengan ceria memainkan alat musik tersebut.

Tim angklung Saung Angklung Udjo turut memeriahkan acara bulanan Unpad ini. Salah satu penonton, Indah Harisa (25) mengaku terkesima dengan bunyi-bunyian yang dikeluarkan alat musik dari bambu itu. "Sekarang konsep angklung lebih berkembang baik dari musikalitasnya atau dari tata cara mempertontonkan angklung. Salut untuk anak muda yang melestarikan angklung,"tuturnya berseri-seri.

Lampu-lampu mulai dipadamkan. Lantas, sekelompok anak memakai pakaian silat muncul. Lampu-lampu kembali dihidupkan disertai tabuhan kendang. Diantara mereka terdapat beberapa anak perempuan. Sekelompok anak itu berasal dari sanggar Gelar Pusaka Margahurip Indah Banjaran, Kabupaten Bandung. Mereka dengan semangat menampilkan berbagai juruh silat, mulai dari kuda-kuda, //sikeup, gerak, lengkah, kembangan, buah, jurus, sapuan, guntingan dan koncian//. Mereka menunjukkan jurus baku dan juga menampilkan demonstrasi secara tunggal dan kelompok.

Salah satu pesilat perempuan, Nani Suryani (14) mengatakan, pada awalnya melihat saudara yang ahli dalam persilatan. Sehingga, gadis yang sudah belajar silat dari kelas tiga SD ini sudah sangat piawai menunjukkan keahliannya. Menurut salah satu pelatih kelompok ini, Cecep Komara, persiapan hanya dilakukan kurang dari dua minggu. Meski demikian, sudah cukup terbantu dengan latihan rutin setiap minggunya. Belum lama ini, kelompok memeroleh juara umum Pasanggiri Silat Tahun 2012 dengan memperebutkan Piala Gubernur Jawa Barat. 

"Kami dapat empat emas dan satu perak,"ujarnya. 

Menurut Cecep, agar anak-anak mau berkegiatan positif, orang tua harus ekstra berkorban untuk kemajuan anak. "Kalau anak ada kemauan positif, dukungan orang tua sangat diperlukan. Misalnya, mengantar jemput anak mulai dari pagi hingga malam,"jelas Cecep.

Kecintaan anak muda dalam seni dan tradisi Sunda juga diperlihatkan saat pertunjukan gotong sisingaan yang ditampilkan oleh anak-anak asuhan Pak Robot "Robot Grup" dari Padepokan Linggar Manik, Kabupaten Subang. Tampak dua sisingaan digotong oleh anak-anak dari padepokan tersebut. Adalah Syarif (10), Iwan (12), Dani (11), Riyan (11), Kiki (11), Andri (13), Puji (12), dan Wahyudin (13) itu terlihat apik mengikuti iringan musik gamelan. Penonton juga tak henti-hentinya memberikan tepuk tangan di sela-sela aksi mereka. Semua bocah itu berasal dari SD Tambakan 2 dan Pelita Karya, Subang.

Pertunjukkan sisingaan menutup rangkaian Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjadjaran ke-5 ini. Sebelumnya, pengisi acara berkumpul untuk memeroleh penghargaan dari Rektor Unpad, Ganjar Kurnia. Menurut Ganjar, agar tidak punah, kesenian Sunda harus dikenalkan kepada genarasi muda. "Siapa lagi yang meneruskan budaya selain para penerus. Acara ini mudah-mudahan jadi pemacu untuk kita semua agar lebih banyak generasi muda yang mencintai budayanya sendiri,"jelasnya. 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Dalang Cilik Teruskan Budaya Sunda"

  1. menunggu kunjungan balik,... ijin mantau dulu sizt,...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)