Dunia Lingga

Yang Lagi Ngetrend di Bandung: Iket Kepala Khas Sunda


Lestarikan Budaya Sunda Lewat Iket Kepala

Suasana Balai Kota Bandung di pertengahan November lalu tampak berbeda dari sebelumnya. Beberapa stan mulai dari makanan, pakaian hingga komunitas memeriahkan Balai Kota Festival Bandung. Salah satu stan yang menarik adalah stan Komunitas Iket Sunda. Pasalnya, stan komunitas ini selalu penuh dengan pengunjung. Mulai dari mereka yang hanya melihat-lihat iket dan kerajinan Sunda lainnya hingga membeli dan memakai ikat kepala khas sunda itu.

Menurut Ketua Komunitas Iket Sunda (KIS), Agus Roche Efendi, komunitas ini bermula dari kegiatan usaha Distrosunda dalam bisnis produk kasundaan seperti kaos, iket ,pangsi, dan sebagainya. Kemudian, di tahun 2007, katanya, KIS mulai menjual produk iket sunda lepasan (selembar kain) dan iket praktis (jenis iket yang sudah dijahit/ dikaput) melalui pameran-pameran kerajinan dan produk kreatif.


"Dari situ, mulailah masyarakat mengenal dan memakai iket sunda juga didukung oleh beberapa komunitas musik anak muda yang memakai iket sunda sebagai salah satu pakaian pentas mereka,"kata Agus. Atas niat beberapa teman-teman pemakai iket dari berbagai latar belakang, maka dibentuklah komunitas ini.

"5 November 2011 ditetapkan sebagai hari resminya KIS berdiri dengan ditandai kegiatan perdana berupa pemberian pengetahuan tentang Iket Sunda,"katanya. Sebenarnya, kata Agus, KIS sendiri dibentuk untuk mempererat silaturahmi antar pemakai iket, memberikan informasi mengenai iket sunda kepada masyarakat dan mngembangkan cara penggunaan, ragam fungsi dan estetika iket sunda.

Tujuan lainnya, sambung Agus, KIS dapat terus bergerak, berkarya dan bergembira dengan kegiatan seni budaya yang berkaitan dengan iket sunda sehingga berbagai tujuan positif lainnya akan muncul,  seiring dengan respon dan minat  masyarakat terhadap produk-produk kasundaan.

Sementara itu, untuk keanggotaan KIS sendiri sangat cair dan terbuka. Siapapun yang suka memakai iket layak menjadi anggota komunitas. "Kalaupun ada pendataan adalah untuk database komunikasi bila ada event atau kegiatan kasundaan atau kegiatan sosial lainnya,"jelasnya. Penandaan dan pendataan keanggotaan terutama di jejaring sosial facebook dengan melalui group face book Komunitas Iket Sunda (KIS).

"Tertanggal 11 November 2012, keanggotaan KIS sudah mencapai lebih kurang 1935 anggota grup yang berasal dari berbagai kota-kabupaten di Jabar, bahkan ada beberapa yang di luar negeri seperti Jepang, Jerman juga Australia,"jelasnya. Bukan hanya anggota dari luar negeri, beberapa artis pun terlihat kerap kali memakai iket dalam pelbagai penampilannya dan itu berasal dari produk KIS.

KIS sendiri ingin perkembangan seni budaya leluhur tetap lestari dengan berkembangnya inovasi yang disesuaikan dengan kondisi zaman. "Sunda adalah ada untuk bisa berperan di segala zaman dan seluruh bagian dunia, dengan tetap dilandasi karakter yang someah (terbuka), berbudi luhur, toleransi dan saling asah asih asuh untuk kedamaian semesta,"katanya.

KIS sudah melakukan berbagai kegiatan diantaranya mengajarkan iket ke finalis mojang jajaka provinsi Jawa Barat tahun 2011, mensosialisasi iket sunda ke para pelajar SMP Pasundan 1 dan 2 juga SMP Assalam Bandung,  pameran dan sosialisasi iket sunda di event Baraga Festival 2012,  diklat membatik di Kabuyutan Braga, Bandung.

Iket sendiri secara tersurat bermakna produk yang diciptakan dan dipakai leluhur Bangsa Sunda sebagai ciri khas budayanya. "Secara tersirat, iket menjadi suatu simbol dari karakter, filosofi dan estetika si pemakainya,"ujar Agus. Sementara fungsi dasarnya untuk merapihkan rambut, melindungi kepala dari cuaca panas, hujan dan lingkungan, membawa barang dan pelindung badan.



Awalnya, penggunaan iket acapkali dipandang kuno atau ketinggalan zaman.Tak sedikit pula masyarakat beranggapan kalau yang memakai iket adalah seorang jawara atau orang pintar (dukun). Padahal, iket adalah bagian dari busana tradisional seperti halnya orang Sunda yang sangat identik bila menggunakan pangsi pasti memakai iket, jadi bukan hanya jawara atau orang pintar saja yang memakai iket.

Namun, fenomena telah bergeser di mana iket telah dipakai oleh berbagai kalangan,  usia, pria maupun wanita. Menurutnya, tren berkembang dengan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. "Penggunaan iket kini dipadupadankan dengan pakaian modern seperti kaos dan batik, tentu anak muda tak lagi malu memakai iket,"jelasnya.

Tren pakai iket juga terlihat di beberapa tempat nongkrong misalnya di seputaran Bandung. Iket kepala ini juga ngetren di kalangan motoris. Para biker tak lagi memakai bandana tetapi sudah  pakai ikat kepala. Secara estetika, paduan jaket kulit, sepatu booth dan ikat kepala di atas mulai dianggap macho dan serasi.

Salah satu pengunjung yang membeli iket, Budiawan (25 tahun) mengatakan, tertarik memakai iket sunda karena filosofis yang dihadirkan dari iket itu sendiri. "Seperti halnya jilbab, pakai iket itu kayak mengendalikan diri sendiri untuk menjaga perilaku saya, agar menjaga budi pekerti,"jelasnya.

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Yang Lagi Ngetrend di Bandung: Iket Kepala Khas Sunda"

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)