Dunia Lingga

Wayangku Sayang Wayangku Malang



Yati (47 tahun) asal Sekeloa Kota Bandung sesekali tertawa ketika mendengar sindir sampir khas bodoran Sunda yang dibawa Dalang Ade Suarsa. Yati sengaja datang bersama cucunya ke acara Helarwayang yang diadakan Sunda Sampaar Creative.  Helarwayang sendiri dilakukan selama tujuh hari tujuh malam di Gasibu, Bandung.

Yati paling suka menonton wayang golek dan wayang kulit. Jika sudah menonton, terkadang ia lupa waktu hingga jelang subuh. "Saya senang sekali, nonton di televisi saja mata saya tidak bisa terpejam, apalagi nonton secara langsung seperti ini,"jelasnya sambil memakaikan cucunya jaket tebal. Cucunya diajak agar lebih mengenal wayang.

Ada juga Baidowi (25 tahun) yang datang jauh-jauh dari Bekasi. Ia sengaja datang karena di tempat tinggalnya jarang ada gelaran wayang. Meski tidak terlalu paham alur cerita dan tokoh-tokoh pewayangan, acara ini diakuinya membuat ia lebih mengetahui budaya Sunda.

Meski malam itu hujan cukup besar, para penonton tetap antusias menyaksikan Helarwayang. Saat itu, Dalang Ade Suarsa membawakan Wayang Hihid. Wayang Hihid bercerita mengenai kritik juga petuah dalam mengarungi hidup. Ade mengemas wayang dalam gerak dan suara yang disesuaikan dengan masa kini.

Ade melukiskan, gambaran manusia yang berbaju hitam dan putih. Manusia kemudian diberi pilihan angin bodas (angin putih) atau angin hideung (hitam). Angin putih menggambarkan manusia yang jujur, tidak menyerah dan tidak tergiur dengan harta berlimpah hasil kejahatan. Manusia juga dapat memilih angin hitam. Angin hitam ini membawa manusia berlimpah harta tetapi hasil kejahatan.
 

 Ade Suarsa memang menonjol dengan karya-karyanya. Wayang Hihid yang terbuat dari kayu hihid adalah salah satu karya seni yang dibuatnya. Kemasan wayang hihid selalu bersamaan dengan tarian-tarian tradisional. "Banyak potensi yang bisa diperhitungkan. Perlu apresiasi dari semua pihak,"ungkapnya.

Karya Ade yang paling menonjol adalah seni Langir Bodong. Lahir adalah kalajengking sementara Bodong adalah semacam sayapnya Gatot Kaca. Karyanya ini merangkak naik mulai dari juara I se-Kota Bogor, Juara I Tingkat Jawa Barat dan Juara I Nasional. "Kami ingin memperkenalkan generasi muda mengenai kesenian wayang dan generasi yang sudah mengenal wayang agar melestarikan kesenian ini,"ungkapnya.

Sebelumnya, di Helarwayang telah menampilkan beberapa Dalang ternama seperti Ki Dalang Riswa Sunandar Sunarya yang menampilkan Wayang Bodoran dan Ki Dalang Warseno Slenk dengan Wayang Kulitnya. Riswa Sunandar tampaknya mampu mengundang gelak tawa penonton. Ia melalonkan Si Cepot yang mengobrol dengan seorang bapak yang menggendong anaknya, juga seorang pemabuk bernama Kang Dadang. Tawa penonton semakin menjadi-jadi saat si Cepot berdialog dengan adiknya yang sarat dengan olok-olok dan sindir sampir khas bodoran Sunda.

Salah satu penonton, Karel (63 tahun) mengaku paling senang dengan lakon yang dibawakan oleh Riswan Sunandar. "Kalau bukan dia saya biasanya //nggak// sampai selesai. Ya paling disuka itu bodorannya dan beberapa cerita modern yang dibawakan,"ujarnya.

Sementara itu, penampilan dalang wayang kulit Warseno Slenk asal Surakarta tidak kalah lucunya. Gaya bahasa Warseno yang ngepop membuat penontong wayang betah berlama-lama menyaksikan hingga pertunjukan usai.

Selain menampilkan Wayang Golek dan Wayang Kulit, Helarwayang juga menampilkan Wayang Sasak dari Lombok, Wayang Cepak dari Cirebon, Wayang Tavip dari Kabupaten Bandung, Wayang Keroncong dari Kota Bandung dan Wayang Catur dari Kabupaten Bandung.

Helarwayang akan ditutup oleh Asep Sunandar Sunarya. Selain wayang, siang hingga sore hari diisi oleh ragam kreasi seni dari berbagai komunitas kreatif dan kelompok seni pertunjukan berbasis tradisi Indonesia. Juga terdapat Wayang Carnival yakni parade dekorasi pewayangan, wayang exhibition, seminar wayang, kompetisi wayang, dan bazaar.

"Helarwayang dilatarbelakangi penganugerahan karya agung budaya dunia tak benda dari UNESCO. Ini artinya, wayang tidak hanya milik bangsa Indonesia, tapi milik masyarakat dunia. Maka harus dilestarikan,"kata Ketua Sunda Saampar, Adi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wayangku Sayang Wayangku Malang"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)