Dunia Lingga

Sedikit Review Tentang Film Habibie dan Ainun

Di bulan Desember, masyarakat Indonesia sepertinya disuguhi film-film bioskop yang mendidik. Sebut saja salah satu film perdana karya sutradara Faozan Rizal, Habibie dan Ainun.

Film yang menyajikan kisah cinta Habibie dan Ainun ini seakan angin segar bagi film Indonesia yang selama ini bertema mistis dan esek-esek. Saat Ainun dirawat di rumah sakit karena kanker ovarium stadium akhir, Habibie yang diperankan Reza Rahadian mengatakan, "Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya," sepertinya adegan yang membuat saya cukup merinding.

Begitupula adegan saat Habibie menunjukkan pesawat 'truk terbang' Gatotkaca N250 yang dijanjikan untuk Ainun. "Untuk membangun pesawat ini, saya kehilangan waktu 30 tahun bersama kamu dan anak-anak" ujar Habibie sambil menangis.

Saya rasa, kisah cinta Habibie kepada bangsa dan keluarga benar-benar disuguhi dalam film ini. Di awal film, kita bisa melihat Bandung di tahun 1950-an. Masih sepi dan asri. Scene yang cukup memukau adalah saat Habibie diminta adiknya Fanny Habibue untuk mengantar makanan ke rumah Ainun. Ainun memukaunya.

Habibie teringat ketika masa SMA mengatakan bahwa Ainun seperti gula jawa, hitam dan gendut. Ketika bertemu Ainun yang sudah menjadi dokter, Habibie terkesima. "Ainun, kamu gula jawa sudah jadi gula pasir sekarang,"kira-kira begitu perkataannya.

Habibie sangat diterima di keluarga Ainun. Habibie mengalahkan kompetitor yang juga ingin merebut hati Ainun. Adegan dansa, naik becak, latar sephia seperti mengingatkan penonton film-film di tahun 60-an. Ainun rupanya memang menyukai Habibie. Seketika itu juga Habibi melamarnya di becak dan Ainun menerimanya.

Mereka pindah ke Jerman, melewati kekusahan dan hidup dalam kesederhanaan. Adegan saat Habibie kekurangan ongkos untuk pulang, ia berjalan dari tempat kerja ke rumah sampai-sampai sepatunya bolong cukup menyentuh. Namun, editing salju masih terlihat kasar, sehingga 'rasa studio' masih terlihat.

Adegan film juga sangat cepat berganti. Sehingga film seperti dikejar dateline untuk memenuhi durasi. Jadi, film seperti kurang fokus menyajikan kisah cinta Habibie dan Ainun karena ada unsur-unsur politik yang masuk. Maklum, film ini harus sesuai dengan apa yang juga Habibie inginkan, berbicara mengenai teknologi yang saat itu Habibie kembangkan dan bagaimana ia menjadi Menristek hingga menjadi Presiden RI.

Kehadiran 'broker proyek' Sumohadi yang diperankan Hanung Bramantyo cukup membuat penonton kesal. Sumohadi melakukan berbagai cara untuk menyuap Habibie. Mulai dari pemberian gratifikasi (jam tangan emas), hingga wanita bayaran untuk menggoda Habibie. Habibie tak goyah, cintanya kepada Ainun sangat besar.

Hingga saat Ainun jatuh sakit, Habibie setia mendampingi. Saya cukup merinding ketika di akhir, Habibie asli ziarah ke kuburan sang istri. Diusap-usapnya nisan Ainun, dipandanginya dengan tatapan haru namun penuh cinta. Perjalanan cinta mereka memang patut dicontoh.

Secara keseluruhan, film ini dengan apik menonjolkan akting Reza Rahadian yang sangat bagus memerankan Habibie. Mulai dari ekspresi wajah, gerakan hingga suara meski tak sama sekali memiliki kesamaan postur tubuh. Maklum saja, Reza mengaku 'dikritik' di setiap adegan film oleh Habibie. Reza juga telah berlatih sekitar 2 pekan dengan melihat kebiasaan Habibie secara langsung.

Sementara untuk akting Bunga Citra Lestari sebagai Ainun, saya kira sangat datar dan biasa-biasa saja layaknya BCL main di FTV. Hanya diakhir adegan, BCL mengeluarkan kemampuannya untuk membuat haru penonton.

Banyak cacat juga untuk film ini, diantaranya make up untuk Habibie dewasa dan tua yang sepertinya tak ada perbedaan sama sekali. Bahkan, anak Habibie (Ilham) seperti tampak lebih tua dari Habibie *come on deeh.

Apalagi penempatan iklan atau produk placement yang tidak tepat dan sangaat banyak. Iklan yang disisipkan di film misalnya, e-toll card. Saya cukup bingung, ini film bersetting sekarang atau tahun 60-an. Belum lagi produk Chocolatos, sirup, minyak angin mewarnai film ini.

Film ini juga seakan tak konsisten dengan pemerannya. Kadang kala, Tyo Pakusadewo yang menjadi Presiden RI ditampilkan, tapi terkadang wajah almarhum Presiden Soeharto yang ditampilkan. Yang lucu, adegan tidak konsisten adalah foto presiden yang dipasang adalah foto Soeharto, bukan foto Tyo Pakusadewo.

Secara keseluruhan, meski cukup mengecewakan untuk film yang menceritakan kisah cinta presiden, film ini cukup diapresiasi untuk membangkitkan nilai-nilai nasionalisme hingga kisah cinta abadi wakil rakyat. Apakah nanti ada kisah-kisah lain dari para tokoh politik atau presiden kita? Soeharto dan Tien, SBY dan Ani? Atau Antara SBY, Ani dan Kak Rhoma? Hehee only joke.











Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Sedikit Review Tentang Film Habibie dan Ainun"

  1. Kata mdentartainment iklan2 itu yg bs mewujudkan adanya film habibie dn ainun kak. Jd mau gamau hrs ada. Media aja bisa dibayar apalagi rumah produksi yg butuh bayaran *ups

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yahh bner, tapi gak kasar gtu ditampilinnya. liat deh film 5cm, bersih dari produk placement buktinya bisa diproduksi dan booming...:p

      Hapus
  2. pls deh , dont compared habibi ainun with that movie 5cm . seriously.. that movie is not that great

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)