Dunia Lingga

Rumah, Keringat, dan Ayahku

Ayahku bukan berasal dari keluarga kaya. Ia merupakan anak ke lima dari tujuh bersaudara. Aku ingat sekali saat ia menceritakan bahwa ia pernah makan sebutir telur yang dibagi menjadi empat agar anggota keluarga yang lain bisa makan.Meski demikian, ayahku seorang anak yang rajin.

Nenekku, Nek Jubaedah, sepertinya sangat sayang ayah. Kalau keluarga kami mudik, ayah adalah orang yang paling ditunggu-tunggu Nek Jubaedah. Terkadang aku terharu jika melihat pertemuan mereka. Ayahku tertunduk dan mencium tangannya penuh hormat sekaligus cinta. Sementara Nenek, sudah siap sedia menyiapkan aneka rupa makanan.

Maklum, ayah adalah anak Nek Jubaedah yang merantau. Nenek di Sukabumi sementara ayah bekerja di Cilegon. Anak nenek lainnya, semua berada di Sukabumi.Ayahku, hanya lulusan SMA. Itupun disekolahkan oleh tempat ia bekerja.

Ia pernah bercerita padaku, pekerjaannya terdahulu. Jadi tukang sampah, tukang penjual bunga, tukang mebel, hingga jadi tukang listrik. Semua pernah dilakoninya. Tak salah memang kalau aku melihat ayah sebagai orang yang pekerja keras dan tak kenal putus asa.Hingga pada suatu saat, ayah diterima kerja di sebuah perusahaan baja di Cilegon.

Ayah kemudian memboyong ibuku untuk membangun kehidupan berumah tangga. Ibuku setuju. Ibu dan ayah mengontrak di sebuah rumah kecil. Rumah itu bisa dibilang sangat menyedihkan. Seringkali ular ada di dapur atau ruang tamu.

Namun, ayah tak bisa berbuat banyak. Yang dilakukannya, ia hanya terus mengumpulkan uang untuk membeli tanah. Sedikit demi sedikit, tanah dapat dibelinya di sebuah wilayah di Kota Cilegon. Lahan itu dibayar dengan kredit. Ayahku, tak hentinya bekerja keras untuk membangun rumah. Selepas bekerja, ia membantu para tukang untuk membangun rumah. Tujuannya, untuk mengurangi biaya upah kepada para tukang bangunan.

Ayah ikut mengaduk semen, memasang pondasi dan mengangkut batu bata.Saat itu, aku ingat aku belum masuk taman kanak-kanak. Handuk selalu ada di lingkaran lehernya. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Aku memerhatikan dari seberang jalan sambil bermain masak-masakan dengan anak lainnya.

Rumahku hampir jadi. Bukan hampir, dapat dibilang hanya setengah jadi. Dulu, tetangga kami menyebut rumah itu rumah sepotong. Karena, rumahku masih ditutup kayu di depannya dan memang belum rampung namun terpaksa ditempati. Namun, aku tidak malu. Aku, kakakku dan adikku senang. Kami punya rumah untuk ditempati.Rumah terkadang kemasukan air bila hujan.

Selain itu, nyamuk seperti tak ingin pergi dari tubuh kami. Ayah melihat kami, matanya berkaca-kaca. Ayah tak punya uang untuk membayar tukang. Tapi kami tak mengeluh. Ini rumah yang ayah buatkan. Ini rumah kami.Melihat kami, ayah jadi khawatir.

Siang malam ia bekerja, seringkali lembur. Kalaupun libur, ia menyibukkan diri untuk mengaduk semen dan menambal bagian rumah yang bocor. Ayahku aku semakin mencintaimu jika ingat perjuanganmu.
Singkat cerita, rumah kami sekarang sudah layak dihuni. Taman depan rumah dipenuhi bonsai cantik. Satu pohon mangga membuat halaman kami teduh dan rindang. Di dalam rumah tak akan ditemui perabotan antik. Hanya dipan untuk televisi. Meja dan beberapa kursi menghiasi ruang.

Itulah rumah pertama kami. Rumah sederhana namun penuh cinta. Tempat kami berkumpul dan saling mencurahkan isi hati. Tempat hati saling bertautan. Inilah rumah kami. Rumah sederhana namun sarat makna.
*lagi kangen bapa

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Rumah, Keringat, dan Ayahku"

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)