Dunia Lingga

Jelajah ke Surga Kecil Ujung Genteng



Siapa yang tidak menyukai panorama pantai. Terlebih melihat pantai dengan pemandangan matahari terbenam. Pemikiran ke pantai yang masih 'perawan' di Pulau Jawa terbersit di benak Mariam Febriani, sahabat semasa kuliah saya. Ia merencanakan ke Pantai Ujung Genteng di selatan Jawa Barat. Letaknya di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.


Awalnya saya penasaran, mengapa dinamakan Ujung Genteng. Apakah ada pabrik genteng di daerah tersebut? Atau penamaan tanah genting atau tanah sempit. Rupa-rupanya tidak. Ujung Genteng merupakan daratan yang menjorok ke lautan dengan panjang sekitar dua kilometer. Tanah ini berada di ujung bawah Pulau Jawa. Ujung bagian atas adalah Ujung Kulon di Provinsi Banten.

Transportasi
Saya dan Febi akhirnya benar-benar melaksanakan niat tersebut. Kami sudah berkemas sejak pagi dari Bogor. Tak lupa kami makan pagi dan membawa camilan untuk dimakan selama perjalanan. Perjalanan ke Ujung Genteng adalah perjalanan yang sungguh menebarkan sekaligus menyenangkan. Saat itu kami pergi di hari Jumat.



Dari Bogor, kami naik angkutan L300 atau elf. Penumpang hanya dikenai biaya Rp15.000. Elf menuju Sukabumi ini memang sudah termasyur sangat suka menyerobot dan ugal-ugalan. Kami hanya bisa berdoa semoga selamat sampai tujuan.

Syukurnya hari itu jalanan tidak terlalu macet. Kami hanya sedikit terhenti di Pasar Cicurug karena para pedagang dan pembeli memulai aktivitasnya. Tampak pula rombongan pekerja pabrik mineral yang masuk pagi. Belum lagi beberapa angkutan kota yang sengaja ngetem untuk mengangkut penumpang.


Perjalanan selama 2,5 jam dari Bogor tak terasa karena kami banyak bercakap-cakap tentang program selepas kuliah. Bekerja atau menikah. Begitulah obrolan para wanita.

Kami berhenti di Terminal Sukabumi. Jika mengendarai mobil pribadi, bisa lewat Kecamatan Cikidang. Jalur alternatif itu biasanya digunakan pengendara roda empat dan roda dua yang menuju Palabuhan Ratu. Namun, kami memilih 'ngebolang' menumpang angkutan umum. Dan benar saja, sangat terasa sensasi backpacker-nya.

Sesampainya ke Terminal Sukabumi, kami naik angkutan umum jurusan Sukabumi-Surade. Angkutan umum ke Surade ini terbilang cukup langka dan kami harus menunggu sampai penumpang penuh. Meski demikian, kita tak perlu keluar banyak uang, cukup merogoh Rp22.000 di kantong, kita akan diantarkan sampai terminal Surade yang jarak tempuhnya sekitar 11 kilometer.

Sekitar pukul 11.30, kami sampai ke Terminal Surade. Setelah sampai, kami beristirahat sebentar dan makan di warung nasi sekitar terminal. Setelah menunggu lama, angkot jurusan Surade-Ujung Genteng tak juga kelihatan.
Menurut penjual nasi, karena hari Jumat, sopir jarang yang bekerja. Padahal, pengeluaran biaya bisa ditekan jika kami naik angkot dibanding naik ojek. Tarif angkot hanya Rp10.000 dengan jarak tempuh 22 kilometer.

Menurut masyarakat, trayek ini sebenarnya berakhir di Pantai Cibuaya. Cukup dekat dengan Ujung Genteng. Akibat sepi peminat, trayek angkot ini hanya sampai persimpangan Tempat Pelelangan Ikan Ujung Genteng. Angkot berwarna merah ini dapat ditemui di Terminal Surade sejak pukul 06.00 pagi. Begitu juga sebaliknya dari Ujung Genteng. Namun, waktu operasionalnya hanya sampai 17.00. Disarankan jangan berpergian pada malam hari.

Karena tidak adanya angkot ke Ujung Genteng, akhirnya kami memilih untuk naik ojek. Tawar menawar harga pun terjadi. Ongkos ojek ternyata cukup mahal, yakni dari kisaran Rp30ribu hingga Rp50ribu. Akhirnya disepakati saya harus membayar Rp50 ribu.

Awalnya, kami ingin langsung ke Pantai Ujung Genteng. Tapi katanya, ada Pantai Pangumbahan yang ada penangkaran tukik (anak penyu).Akhirnya, kami meminta tukang ojek mengantarkan kami ke Pantai Pangumbahan.

 Di sepanjang perjalanan, saya melihat berbagai pepohonan hijau. Beberapa diantaranya pohon aren yang menghiasi sepanjang perjalanan. Terkadang, saya melihat penyadap nira tengah bekerja mengambil cairan manis yang nantinya diolah jadi gula merah itu.

Di sepanjang jalan, saya banyak bertanya pada tukang ojek yang tak saya ketahui namanya itu. Menurutnya, masyarakat di sekitar Ujung Genteng memang bekerja sebagai penyadap nira. Sebagian lainnya bekerja sebagai petani dan nelayan. Pantas saja, petak-petak sawah juga turut menghiasi penglihatan saya.


Ada kejadian unik untuk sampai Pantai Pangumbahan. Karena jalanan rusak dan penuh lubah serta becek, motor yang saya tumpangi sempat mogok. Tukang ojek yang ditumpangi Febi akhirnya membantu untuk mengangkat motor yang mogok. Untungnya, motor tersebut tak mogok lama-lama. Sepertinya, knalpot motor kemasukan genangan air.


 Pesona Pangumbahan dan Penangkaran Penyu

Lamanya perjalanan terbayar sudah. Kami disuguhi pemandangan pantai yang menakjubkan. Di pinggiran laut masih ditumbuhi pepohonan rindang sebagai syarat lokasi yang memenuhi kriteria agar penyu bisa bertelur.

Kami bertemu Pak Cecep, salah satu pegiat Konservasi dan Penangkaran Penyu yang dikelola pemerintah setempat. Kami diizinkan untuk melihat proses penangkaran tukik dan sempat memegang tukik-tukik menggemaskan itu.

Kami juga diizinkan untuk menginap di mess para pegiat konservasi. Orang-orang dan pekerja di sana memang sangat baik. Malamnya, kami diantar untuk melihat penyu bertelur. Kami diminta untuk memakai jaket dan membawa air minum karena proses penyu bertelur cukup lama, bisa sampai dua jam.

Kami dibawa oleh Pak Cecep menuju pos pengamatan. Ada sekitar enam pos pengamatan yang disiapkan dan jumlah pengunjungnya dibatasi. Tentunya, masih jauh dari lubang penyu bertelur. Hal ini untuk mencegah agar penyu yidak kaget dan mengurungkan niatnya bertelur. Ya Allah, saya melihat penyu-penyu itu menuju pantai. Sangat cantik, benar-benar sangat cantik.


Penyu betina itu menggali lubang dan memulai proses bertelur. Kami akhirnya diperbolehkan menyaksikan dari dekat. Menurut Pak Cecep, penyu-penyu itu memilih tempat yang bersih dan tinggi untuk bertelur. Sehingga, diharapkan para pengunjung tetap menjaga kebersihan.

Saya bertemu dengan turis lokal dan mancanegara. Rombongan turis dari Selandia Baru itu juga menghayati proses bertelur penyu betina itu. Malam menjelang pagi, kami masih mengamati penyu yang mengais-ngais pasir untuk mengubur telur-telurnya.


Pagi harinya, pintu kamar kami diketuk-ketuk. Ternyata Pak Cecep mengajak kami untuk melepas tukik-tukik. Penawaran yang sangat menggiurkan. Dari ratusan tukik yang kami lepas, Pak Cecep mengatakan, hanya sedikit kecil yang bertahan menjadi penyu dewasa. Sisanya dimangsa predator. Karenanya, pusat konservasi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan penyu yang hampir punah itu.

Ujung Genteng dan Buah Tangan

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng dengan menyusuri pinggir pantai. Kami disuguhi sensasi kekayaan laut yang indah. Karang memagari pesisir yang berselimut pasir putih. Beting karang membuat ombak tak menyentuh wilayah pesisir. Sayangnya, kami tak sempat mengabadikan momen indah itu. Kamera poket kami kehabisan baterai.

Namun, yang jelas, air laut yang jernih mengakibatkan kita dapat melihat aktivitas yang ada di dalam laut. Terlebih, rumput laut yang tersapu ombak sangat terasa di telapak kaki.



Oiyya, menjelajah suatu tempat biasanya membawa ciri khas daerah tersebut. Setelah menikmati Ujung Genteng, saya dan Febi akhirnya pulang. Kami pulang dengan menyusuri pantai hingga Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Luar biasa bukan jauhnya. Namun, semua tidak terasa jauh karena kami diiringi pemandangan menakjubkan pantai Ujung Genteng.

Nah, tentang oleh-oleh, mungkin gula sintung harus ada dalam daftar oleh-oleh kita. Gula ini gula merah biasa. Namun, proses pengolahan gula ini memakan waktu enam jam. Gula ini cukup murah, hanya dijual Rp10ribu per kilogramnya.

Bukan hanya gula sintung, berbagai ikan diantaranta jenis black marlin dan walangkekek dapat diperoleh di TPI. Selain itu, ada pula tanaman Brambang atau lebih dikenal dengan bawang merah. Yang menarik, Brambang berbeda dengan bawang merah yang ada di pasaran. Pasalnya, Brambang bisa berukuran dua kali lipat dari bawang merah biasa.

Selesai sudah menjelajah kami ke Ujung Genteng. Setelah memuaskan diri melihat biota laut, penangkaran penyu, karang-karang hingga oleh-oleh daerah ini, rasanya perjalanan saya kali ini tidak terlupakan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jelajah ke Surga Kecil Ujung Genteng"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)