Dunia Lingga

Ibu, Tonggak Budaya Baca Masyarakat

Membaca adalah jendela dunia, pintu untuk pendidikan dan pengetahuan. Membaca tidak hanya untuk orang orang yang berkacamata tebal, orang yang pintar, orang yang perpendidikan, orang yang kutu buku dan lain sebagainya. Namun membaca adalah untuk semua orang, untuk semua kalangan, dan untuk semua umur.

Sayangnya, masih banyak orang yang buta aksara dan minimnya minat baca masyarakat. Padahal, memberantas buta huruf dan upaya  meningkatkan minat baca sudah dilakukan Indonesia sejak awal kemerdekaan 1945.

Taman baca masyarakat (TBM) boleh jadi garda terdepan dalam pemberantasan buta huruf dan menumbuhkan minat baca. Pasalnya, TBM mudah diakses masyarakat, tidak ekslusif dan membumi. TBM membuat warga setempat dapat mengakses beragam informasi, referensi dan sekaligus menjadi wadah bagi komunitas untuk beraktivitas sesuai karakter dan potensi daerah tersebut.

TBM sebenarnya sama dengan perpustakaan, namun, namanya diubah menjadi TBM untuk mengubah anggapan di masyarakat yang biasanya merasa takut untuk masuk ke tempat tersebut dan mau mengambil buku dan membacanya.

Menurut Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Jawa Barat (Jabar), Heni Rohaeni, TBM harus dibuat menyenangkan dan berfungsi sebagai tempat edukasi, rekreasi, informasi dan sosialisasi. TBM Melati yang terletak di Jalan Panyawangan II Ujung Berung Bandung ini misalnya, terus-menerus ditingkatkan fungsinya.

Selain menjadi tempat memelihara melek huruf dan menumbuhkan minat baca, keterampilan menulis para anggotanya juga selalu dilatih."Menulis dari yang mudah-mudah. Mulai dari menulis cerita hingga menulis resep,"kata Heni yang mempunyai tiga anak ini.

TBM Melati sendiri dibentuk pada tahun 2001 bersama ibu-ibu sekitar kompleksnya. Melati merupakan singkatan dari Melalui Tangan Ibu. Melalui ibu, kata Heni, budaya membaca di keluarga dapat digalakkan. "Ibulah yang menjadi tonggak dalam menumbuhkan minat baca pada anak-anaknya,"kata Heni. Namun, tak hanya ibu, ayah juga bertugas memacu anak-anaknya untuk gemar membaca.

"Dahulu, ayah saya membiasakan membaca buku. Beliau selalu membeli buku meskipun itu buku bekas untuk kami baca,"ujarnya lagi.TBM Melati dahulu bernama Griya Pustaka Nurul Rahman. Awalnya, hanya ada beberapa buah buku, kini mencapai 2.000 buku. Buku-buku TBM ini terdiri buku fiksi, pelajaran, psikologi, agama dan majalah.

"Pengunjung biasanya meminjam buku-buku ringan seperti novel dan cerpen,"jelasnya.Pengunjung TBM biasanya anak-anak dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan ibu-ibu yang mengantarkan anaknya sekolah. Tak perlu ribet untuk meminjam buku disini, cukup mengatakannya ke relawan yang saat itu bertugas.

TBM Melati ini juga tidak menggunakan sistem katalogisasi dalam penyusunan bukunya.Para peminjam buku juga tidak harus membayar uang sewa untuk meminjam buku. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Menurut Heni, menumbuhkan minat baca bagi mahasiswa dan akademisi saja sulit apalagi terhadap masyarakat menengah bawah."Kalau dibuat syarat seperti itu justru susah, kita ingin cair. Kapanpun bisa meminjam dan mengembalikan,"jelasnya.

Namun demikian, peminjam dari mahasiswa kelas karyawan dikenai iuran.Cara ini dilakukan Heni, guna dapat menyesuaikan dengan lingkungan, dimana "dia" tidak harus mengaplikasikan kecanggihan teknologinya namun harus di sesuaikan dengan konsumennya atau pemustakanya.

"Untuk apa perpustakaan yang serba canggih dengan sistem serba komputer jika para konsumennya adalah anak anak yang putus sekolah dan anak anak jalanan yang dari kebanyakan mereka tidak paham dengan komputer,"ujarnya.TBM Melati ini juga sudah sering memeroleh banyak penghargaan.

Penghargaan di tahun 2010 misalnya, mendapatkan juara II keteladanan TBM wilayah Priangan. Di tahun 2011, memeroleh juara I tingkat Kota Bandung, menyusul kemudian juara I tingkat provinsi dan juara II tingkat nasional.
Lingga Permesti

Reporter of Republika Newspaper
081298142411

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ibu, Tonggak Budaya Baca Masyarakat"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)