Dunia Lingga

Bolang di Bali: Part Tanah Lot


 Saya belum pernah ke Bali, baik untuk liburan atau bekerja. Tapi tanggal 28 Oktober sampai 2 November lalu, saya ditugaskan untuk meliput ke Pulau Dewata itu. Liputan mengenai vaksin di negara-negara berkembang. Lima hari dan liputan sangat padat. Saya perkirakan tidak akan bisa jalan-jalan di Bali.

Meski begitu, liputan yang berlokasi di Discovery Kartika Plaza Hotel itu sebenarnya bisa saya akali. Setiap harinya, liputan dimulai pukul 9.00 atau 10.00 waktu Bali. Nah, saya dan teman sekamar dari Pikiran Rakyat, Teh Oyeng, akhirnya merencanakan untuk jadi bocah petualang (bolang). Berbekal peta dan motor sewaan.

Jadi, nyewa motor di Bali sangat-sangat murah. Selama 24 jam, kita hanya membayar biaya sewa Rp50ribu-Rp60ribu. Akhirnya, ngebolang-pun dimulai. Pagi-pagi sekitar 5.30, saya dan teh Oyeng sudah berdandan cantik dan menyewa motor. Di Jalan Kartika Plaza, penyewaan motor sangat ramai. Kita bisa memilih motor apa yang ingin digunakan. Mulai dari vario, mio, bebek, dan scoopy. Saya memilih vario.

Sang penyewa motor namanya Wayan. Ia meminta KTP saya dan tanda terima motor tersebut. Kemudian, ia memberi STNK motornya. Ia bilang, ia akan ambil besok di jam yang sama ketika saya meminjamnya. Wayan, yang saya perkirakan masih duduk di sekolah menengah itu rupanya tak segan menyewakan motornya. Lumayan katanya, untuk uang jajan.

Tempat ngebolang pertama: Tanah Lot. Memang letaknya agak jauh dari Kuta. Tanah Lot lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah Pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan Pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.

 


Untuk menuju Tanah Lot dari Kuta, butuh waktu 30 menit hingga satu jam perjalanan. Apalagi kalau tidak macet dan tersasar. Saat itu, tersasar sepertinya sudah jadi makanan saya sehari-hari. Terlebih, saya adalah orang yang paling susah menghafal jalan. Syukurnya ada Teh Oyeng yang lumayan jernih ingatannya..hehee..

Di Tanah Lot, kami menghabiskan waktu melihat-lihat pemandangan dan berfoto-foto. Turis belum banyak yang datang, karena kami sampai pukul 7.30 pagi. Namun, beberapa pria berpakaian Bali sudah memulai aktivitasnya. Kali itu, ada upacara pembersihan jiwa para balita. Salah satu lelaki yang saya wawancarai, Gede namanya, mengaku sering libur dari aktivitasnya bekerja karena banyaknya upacara adat di daerahnya itu. Wah..wah..enak kali ya jadi anak sekolah di Bali, libur terus boo..

Saya dan teh Oyeng belum sempat masuk ke Pura Tanah LOt, karena air laut cukup tinggi dan kami sedang malas berbasah-basahan. namun, kami sempat bertemu dengan kakek penjaga Ular Dewa. Ular ini, katanya, sangat baik dan menjaga Tanah Lot. Ia memerlakukan si Ular layaknya atasan, bos, atau dewa. 

Belum puas rasanya saya bermain di Tanah Lot, tapi, waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, sudah saatnya kembali ke Kuta dan kembali bekerja. Part selanjutnya akan saya bahas tentang ngebolang di Nusa Dua, Ubud dan pusat perbelanjaan Bali.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bolang di Bali: Part Tanah Lot"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)