Dunia Lingga

Fenomena Dunia Entertaint Anak-anak (part 1)

Pulang pergi Jakarta Bandung sudah biasa bagi saya. Karena, kantor pusat Jakarta dan Bandung kantor perwakilan. Biasanya, saya naik travel atau bis. Kebetulan, saya pulang naik travel murah meriah, Baraya.

Seperti biasa, buat menghilangkan suntuk, saya baca buku. Buku Ibuk karya Iwan Setyawan. Oke, mungkin nanti cerita isi bukunya. Yang mau saya ceritakan, saya bertemu dengan seorang ibu yang anaknya bermain sinetron di RCTI. Si ibu yang berpakaian putih itu dengan bangganya bilang, "Adek tau kan yang jadi Rino di sinetron Hanya Kamu? Pasti tahu, anak saya main disitu,"ungkapnya sambil promoosi.

Seketika itu juga saya plongo. Apa itu Hanya Kamu..yang mana itu yah, kata saya dalam hati. Rino dan apalah itu namanya saya nggak ngerti. Sejak bekerja, saya memang terbilang jarang menonton televisi. Yang sering saya nonton hanya on the spot, ovj dan metro tv, lainnya berupa FTV atau film lepas.

Si ibu, katakanlah ibunya Rino, menjelaskan sinetron yang tayang tiap pukul lima sore di RCTI itu. Seketika ia menyebut Coboy Junior, yang jadi bintang di sinetron tersebut. Ohya, akhirnya saya ngeh. Sinetron-sinetron remaja yang agak-agak lebay dan alay itu. Uppss..

Karena saya sering bosan, ngobrol salah satu bentuk memecah suntuk. Buku Ibuk, saya pinggirkan terlebih dahulu. Apalagi saat itu jelang magrib, langit sudah gelap. Buku tak terbaca. Si ibu kembali bercerita. Terutama cerita bagaimana persaingan alot di dunia hiburan.

Sang anak, sudah sering casting di beberapa PH. Beberapa kali juga ditolak.  Rino tidak menyerah. Sempat pula ibu Rino dan Rino dimintai pungli agar lolos casting. Ibu Rino menolak. Dunia hiburan untuk raih keuntungan, bukan kerugian. Jika casting-casting dimintai biaya, itu patut dicurigai.

Setelah casting sana sini, Rino lolos. Ibu bersorak, girang. Pundi-pundi uang sudah ada dibayangannya. Ibu Rino memang rajin mendidik anaknya supaya ia berhasil. Mulai dari les dan lomba, didaftarkan sang ibu untuk Rino. Bukan untuk menang, tapi agar Rino bisa memilih yang disukainya.

Les pelajaran hingga basket, Rino jalani. Setelah sekian lama, ujar Ibu Rino, si anak terlihat polanya. Ia menyukai dunia akting. Ibu mendukung. "Siapa yang nggak bangga anaknya nongol di tivi?"kata Ibu Rino sambil memakan soup cream yang dibelinya di rest area.

Pundi-pundi uang semakin terkumpul. Namun, harus ada yang harus dibayar Rino karena kesibukan syutingnya. Sekolah. Ya, sekolahnya mulai terpinggirkan. Sayang sekali. Rino akhirnya home schooling.

Tapi, Ibu Rino tetap bangga. Tak ada salahnya untuk home schooling. Anak, tidak harus ikut sekolah umum. Yang penting dari sekolah hanyalah melatih pola pikir, katanya.

Mungkin, saya pikir, bukan hanya Ibu Rino yang mendukung sang anak jadi artis. Tapi, ternyata banyak sekali di luar sana, orang tua berambisi untuk menjadikan anaknya artis. Karena apa? karena uangnya basah, banyak.

Ibu Rino mengatakan, selagi bisa melakukan sesuatu maka lakukanlah. Yang ia lakukan,, agar anaknya dapat hidup enak, agar keinginan anaknya tersalurkan. Ibu Rino juga menceritakan bagaimana masuk ke dunia hiburan sangat menjanjikan. Puluhan juta dapat dikumpulkan dalam sehari.

Rino memang belum begitu terkenal. Meski begitu, Rino mungkin dapat bernapas lega. Karena sang ibu, adalah manager dan marketing untuknya. Sang ibu, pemberi doa dan pelukan.

Ibu Rino juga berbagi, bagaimana Coboy Junior dapat booming seperti sekarang...mau tauuu?nanti deeh diterusin..krja dulu yaa...


 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fenomena Dunia Entertaint Anak-anak (part 1)"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)