Dunia Lingga

Prasangka Ucok

Cuaca Muara Karang pagi ini sangat terik, tidak ada semilir angin yang berhembus. Wajah dan tubuhnya mengeluarkan butiran-butiran keringat. Hari ini ia memakai celana jins lusuh dan kaus oblong. Terlihat di lengan kanan dan kirinya berbagai bentuk tato yang sudah tidak karuan gambarnya. Rambutnya yang agak ikal dan kulitnya yang hitam legam membuat orang yang melihatnya mempersepsikan ia adalah orang yang sangar dan kejam.

Setelah meneguk air mineral, ia melanjutkan pekerjaannya, menjadi seorang “preman pasar ikan”. Matanya terus memerhatikan gerak gerik para nelayan, juga turis yang ingin menyebrang ke Kepulauan Seribu. Sesaat kemudian, seorang nelayan dari kapal kelompok Inramayu memberikan selembar lima puluh ribuan.

Nelayan tersebut menyapanya penuh hangat dan memanggilnya dengan sebutan Bang Ucok. Bang Ucok pun tersenyum dan mengantongi uang tersebut seraya mengucapkan terimakasih. Bang Ucok sebelumnya bertanya kepada sang nelayan apakah kebutuhan dirinya dan awak kapal sudah terpenuhi dan nelayan tersebut mengangguk tanda setuju.

Ternyata, bukan hanya nelayan tersebut yang mengenalnya. Sebagian besar dari nelayan, pelelang ikan, bahkan wanita nelayan mengenalnya cukup dekat. “Bang Ucok itu baik, tidak pernah memaksa kalau kita gak ngasih” ujar salah seorang buruh bongkar muat kapal di Muara Karang. Ia mengaku bahwa dengan bantuan Bang Ucok, kapalnya tidak pernah kecurian satu kalipun. Bahkan Bang Ucok sering membantu mereka untuk mengangkut ikan-ikan yang datang.

Wajah dan tubuh kekar Bang Ucok memang menjadi prasangka orang untuk menilainya buruk. Siapa sangka, ia memiliki gelar Tubagus, gelar prestisius di banten. Siapa sangka pula, Bang Ucok ternyata sangat dipercaya dan dikagumi oleh sebagian besar nelayan disana. Ia menuturkan bahwa apapun akan ia lakukan untuk mencari uang, asalkan uang itu halal. Bang Ucok berjanji di Ramadhan ini akan memperbaiki diri agar puasa tidak bolong dan puasa tepat waktu.

Dari Bang Ucok saya belajar, belajar untuk tidak membuat prasangka buruk, belajar untuk mempehatikan orang dan belajar untuk selalu memperbaiki diri. Wallaualam.


*nb: jadi kangen ayam goreng bang ucok di Dramaga Bogor...huhuhu

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Prasangka Ucok"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)