Dunia Lingga

Denyut Pelabuhan Sunda Kelapa

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan saksi sejarah dari lahirnya Kota Jakarta. Pelabuhan yang terletak di daerah Penjaringan, Jakarta Utara ini sebenarnya mudah diakses. Baik dengan angkutan umum, kendaraan pribadi hingga ojek sepeda. Bukan hanya mudah diakses, biaya perjalanannya pun tidak terlalu mahal, apalagi menggunakan busway.

Pagi-pagi sekitar pukul enam saya berangkat dari daerah Pejaten, Jakarta Selatan menuju daerah Penjaringan, Jakarta Utara menggunakan busway. Biaya perjalanan hanya sebesar Rp2000 dengan transit di daerah Kuningan.

Sesampainya di pelabuhan, saya menyaksikan kapal-kapal Phinisi dan kapal-kapal Bugis Schooner dengan bentuknya yang khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal, membuat saya bisa membayangkan betapa ramai dan besarnya pelabuhan ini pada zaman penjajahan Belanda dahulu. Kapal-kapal tradisional ini ditambatkan berjejer di kanal sepanjang 2,2 kilometer yang jika dilihat dari kejauhan akan terlihat berderet rapi.

Saya pun merasakan udara panas yang sangat menyengat. Padahal hari itu baru pukul sembilan pagi. Saya melihat beberapa buruh bongkar muat yang sedang makan gorengan dengan lahapnya. Di tangan kanan dipenuhi gorengan sedangkan sebelah kiri menggenggam plastik yang berisi es sirup. Saya sempat berpikir untuk membatalkan puasa Ramadhan saya karena melihat mereka makan dengan bahagianya.

Selain sedang beristirahat, beberapa diantaranya juga sedang sibuk memanggul barang berupa semen dan pupuk. Hati saya berdesir hebat karena melihat sebagian besar diantara mereka adalah yang sudah tak muda lagi usianya. Saya pun bergidik ngeri melihat proses bongkar muat barang tersebut. Satu persatu karung dipikul oleh mereka hingga peluh meleleh dengan derasnya.

Ketika saya menelisik lebih dalam, saya juga melihat beberapa ABK (Anak Buah Kapal) dengan segala aktivitasnya, mulai dari mencuci, membersihkan kapal dan memperbaiki jangkar dan segala aktivitas lainnya. Barang-barang ini konon akan dibawa ke Kalimantan khususnya Pontianak.

Berbeda dengan para ABK, saya melihat rombongan turis asing yang sebagian besar berasal dari Negeri Belanda itu sedang asik menjepret dengan kamera SLR. Setelah asik mengabadikan suasana pelabuhan di siang itu, beberapa turis menuju Museum Bahari untuk mengetahui sejarah kelautan Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Setelah ditelusuri lebih jauh, Pelabuhan Sunda Kelapa ini memang setiap harinya dikunjungi turis asing, terutama dari Negeri Belanda.

Tidak lengkap rasanya jika tidak mengendarai ojek sepeda yang berkeliaran menjajakan jasanya di sekitar pelabuhan. Untuk berkeliling pelabuhan menggunakan jasa ini, saya hanya mengeluarkan biaya sebesar lima ribu rupiah. Berjalan-jalan dengan ojek sepeda juga membuat kita mengetahui apa yang terjadi di sekitar pelabuhan. Sempat rasanya saya was-was mengendarai ojek sepeda ini karena seringkali berpapasan dengan truk-truk besar yang membawa muatan barang.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Denyut Pelabuhan Sunda Kelapa"

  1. kamuuuuuuuuuuuuu ke jakarta utara ga bilang2




    ke kota tua juga ga liiiiing?
    lumayan keren juga tuuuuuuh.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)