Dunia Lingga

Balada Si Idham (Chapter: Ujian Nasional, Naruto dan Bersalaman)

Bulan-bulan ini adalah ketika anak sekolah, baik SD, SMP hingga SMA disibukkan dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Tidak terkecuali dengan adikku, Muhammad Idham. Kini ia memasuki bangku SMP, setelah bersusah payah selama enam tahun menimba ilmu di SD. Adikku yang satu ini memang berbeda dari kakak-kakaknya, mungkin karena dia adalah anak terakhir dan LAKI-LAKI. Sikap cuek dan sembrono mungkin menjadi 'cap' untuknya.

Awalnya aku tidak berpikir dia akan dapat memasuki sekolah yang cukup bonafit di Kota Cilegon, SMP 1 Cilegon. Karena itu tadi, sikapnya tak seperti asumsi 'seorang anak pintar' pada umumnya. Belajar, berbakti pada orang tua, belajar, berbakti kepada orang tua dan begitu seterusnya. Tidak, ia tidak seperti itu. Tahu apa yang sehari-hari ia lakukan sebelum ujian nasional? Yah, bermain bola, menonton Naruto dan bermain Point Blank.Heh.

Aku sempat khawatir dengan bagaimana ia menjalani ujian nasional tersebut, sempat pula aku memarahi dan nagging kepadanya. Tapi ya begitulah, kakak perempuannya ini tak pernah didengar, kalaupun didengar adalah ketika aku memberi uang jajan padanya. Jerk.

Ternyata, asumsi itu memang tidak cukup meyakinkan. Mungkin adikku salah satu contohnya. Berbagai faktor yang mungkin membuatnya dapat lulus ujian nasional dan mendapatkan nilai yang cukup memuaskan untuk masuk ke SMP favorit. Ya, lagi-lagi usaha memang dibutuhkan, tetapi memang harus sesuai porsinya. Setelah aku amati, ia memang belajar sesuai porsinya. Tidak berlebihan. Pagi belajar di sekolah, pulang sekolah agama, sore bermain bersama teman-teman, malamnya hanya membaca buku satu jam dan langsung menonton acara kesukaannya, Naruto, Avatar atau entahlah apa nama serial anime Jepang itu.

Namun demikian, ada satu hal yang aku lihat benar-benar dari dirinya, budaya bersalaman. Bersalaman kepada orang tua sebelum berangkat kemanapun mungkin kini sudah jarang dilakukan karena tergerus budaya Barat sana. Adikku, tidak terpengaruh hal tersebut, sebelum pergi ke sekolah selalu tak lupa bersalaman. Ia bilang, "takut dosa Idhamnya, Kakak Lingga. Idham kan pengen doa Mama!". Wah, aku sempat terperangah dengan pemikirannya itu. Baginya, Mama adalah seorang idol, dan itu yang aku rasa hidupnya tidak dibawa pusing. Kakak belajar banyak dari kamu ^^

Bersalaman adalah salah satu bentuk dari pendidikan karakter. Tradisi bersalaman pagi adalah pencerminan dari penghormatan antara yang muda dan tua dengan cara mencium tangan. Penghornatan anak kepada orang tuanya. Bila tradisi bersalam-salaman terus dilestarikan di keluarga kita dulu saja, maka tak ada orang muda yang tidak bersalaman (seraya mencium tangan) kepada orang tua ketika bertemu. Inilah symbol dari sebuah kultur budaya Indonesia asli, dimana yang tua menghormati yang muda dan begitupun sebaliknya.

Yah, pelajaran yang dapat dipetik dari tulisan singkat ini adalah, tidak ada yang salah dengan bermain, yang penting sesuai porsinya. Tidak ada yang salah dengan belajar giat, yang penting sesuai porsinya. Yang salah adalah ketika semua sesuai porsinya tetapi kita lupa, di samping berusaha, ada Ridho orang tua di balik semua itu. Karena Ridho orang tua, adalah Ridho Allah SWT. Wallahualam.



Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Balada Si Idham (Chapter: Ujian Nasional, Naruto dan Bersalaman)"

  1. Salam...
    maf mau numpang tanya ...
    ini sama kontributor republika ya..?
    judulnya "kaum liberal Mesir tarik diri dari panel konstitusi"

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)