Dunia Lingga

BANGKIT ITU, AKU UNTUK INDONESIAKU

Bangkit itu…Malu.

Malu jadi benalu, malu karena minta melulu

Bangkit itu...Mencuri.

Mencuri perhatian bangsa lain dengan prestasi.

Bangkit itu...Marah.

Marah jika martabat bangsa diinjak-injak

Bangkit itu...Tidak Ada.

Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa.

Bangkit itu...Aku..Untuk Indonesiaku

Inilah beberapa penggalan perkataan Dedy Mizwar yang pernah disiarkan di televisi. Sebuah perkataan yang menyentil saya sebagai seorang mahasiswa (sekarang mantan mahasiswa). Ya, Hari Kebangkitan Nasional memang sudah lebih kurang satu bulan berlalu, namun euforianya masih dirasakan sampai saat ini. Akan tetapi, euforia itu langsung memudar disambut bangkitnya harga sembako dan BBM, bangkitnya KKN, bangkitnya kekejian terhadap TKI, dan segala kebangkitan kekejian di negeri ini.

Tidak dapat dipungkiri memang, sejak didirikannya Budi Utomo, hingga jaman reformasi sekarang, kebangkitan bangsa Indonesia seperti jalan di tempat, atau bahkan bukan jalan di tempat lagi, dapat dibilang ‘mati suri’. Mahasiswa pun meradang, menentang, menuntuk haknya, menuntut hak rakyat. Mahasiswa turun ke jalan, membawa spanduk besar menentang KKN, kenaikan sembako dan BBM, juga lainnya. Mirisnya spanduk itu disejajarkan dengan spanduk golongan A, spanduk golongan B hingga Z. Bukan, bukan atas nama rakyat, tapi atas nama golongan.

Memang, tidak ada salahnya turun ke jalan. Karena dengan itu, Soeharto dapat dilengserkan. Karena dengan itu, keadilan dapat ditegakkan. Tapi itu dulu, sekitar tiga belas tahun yang lalu. Itu dulu, saat dunia menutup mata dan hati. Saya bukannya tidak setuju dengan adanya aksi turun ke jalan, akan tetapi asalkan aksi tersebut konstruktif dan edukatif, itulah aksi yang sebenarnya. Kini, adalah bukan pekerjaan kita untuk menuntut. Sekali lagi bukan pekerjaan kita, teman. Bangkit adalah dengan mencuri, mencuri perhatian bangsa lain dengan prestasi. Seperti apa yang dikutip dari Koran Kampus Edisi 23 Mei 2008 tentang pernyataan Bapak Rimbawan yang mengatakan bahwa aksi mahasiswa itu perlu, aksi tidak harus turun ke jalan, aksi bisa dilakukan di ruangan, seperti mengikuti perlombaan, pemikiran kritis, karya ilmiah, dialog jalur advokasi atau seminar.

Seharusnya memang inilah yang dilakukan oleh mahasiswa. Bangkit adalah saatnya memberi, bukan menerima. Bangkit adalah apa yang telah dan akan kau berikan untuk bangsamu, bukan apa yang telah diberikan bangsamu. Masing-masing mempunyai cara tersendiri untuk berpartisipasi dalam kebangkitan bangsa ini, Dedy Mizwar berdemo dengan filmnya, Habibburahman El Shirazy berbicara dengan novelnya dan mahasiswa dengan keseriusannya dalam menuntut ilmu sehingga nantinya ilmu itu diamalkan untuk kesejahteraan rakyat.

Tulisan ini memang sekedar opini, mungkin akan ada yang merasa kecewa, sebal, bahkan muntab dengan pendapat saya, tetapi dari sinilah saya bisa memulai untuk berpartisipasi dalam kebangkitan nasional, dengan tulisan. Dengan tulisan saya dapat berbicara dan berprestasi, saya dapat berdemo kepada pemerintah, berdemo kepada dunia bahwa mahasiswa adalah agent of change, bahwa mahasiswa adalah tonggak kebangkitan bangsa. Karena kebangkitan nasional adalah Aku, Untuk Indonesiaku...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BANGKIT ITU, AKU UNTUK INDONESIAKU"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)