Dunia Lingga

RUMUS PINTAR MBOK NAH

“Jamuu…jamunya Mbak...!” teriakan Mbok jamu selalu kudengar tepat pukul sembilan pagi. Aku terperanjat kaget mendengarnya, suaranya yang lantang itu memecah konsentrasiku yang sedang menghapal bahan ujian untuk besok. Berisik sekali pikirku, mbok jamu itu seperti tidak punya tatakrama saja, berteriak keras-keras, seolah-olah tidak akan ada yang merasa terganggu. Pada mulanya aku tidak menanggapi kejadian yang terus berulang ini, tetapi lama kelamaan aku dibuat kesal olehnya.


Aku lihat dari balik kaca jendela orang yang mengganggu belajarku itu, seorang wanita usia lima puluh tahunan, menggendong satu baku jamu dan membawa ember kecil di tangan kirinya. Kebaya lusuhnya itu berwarna biru tua dengan jahitan tambalan di sekitar lengan kebaya itu.


Tak lupa pula kuperhatikan bakul besar yang ia bawa, mungkin beratnya sekitar lima kilo, atau mungkin lebih. Di dalamnya berisi macam-macam jamu, dari jamu penyegar badan hingga jamu kuat untuk para pria. Kulihat ia membenarkan letak selendang jamunya, selendang yang ia gunakan untuk membawa bakul itu. Badannya yang kecil hampir tertutupi oleh bakul jamunya yang besar dan berat.


Sempat terbersit rasa kasihan padanya, tetapi apa yang ia lakukan tidak dapat membayar semua ini, membayar kekeruhan otakku yang diganggu oleh suaranya yang seperti ingin memecahkan gendang telingaku. Akhirnya kusudahi saja belajarku dan pergi mandi, tetapi tetap saja hatiku mengumpat-ngumpat pada ibu tua itu, si penjual jamu.


Setelah beberapa hari ini, tidak kudengar lagi teriakan mbok jamu yang biasa dipanggil Mbok Nah itu. Entah apa yang terjadi padanya hingga tidak ada selama beberapa hari ini. Atau mungkin, ia telah insaf mengganggu orang-orang yang beraktivitas dan membutuhkan konsentrasi yang besar, seperti aku ini. Aku sengaja memilih kost yang agak jauh dari kampus supaya mendapatkan ketenangan dalam belajar, tetapi ternyata, keputusan yang kupilih ini tidak sesuai apa yang aku inginkan, terutama, suara Mbok Nah yang mengganggu. Ah, sungguh senangnya tidak ada teriakan tak bersahabat di telingaku akhir-akhir ini.

***

Kuliahku akhir-akhir ini berantakan, entah mengapa. Mungkin karena permasalahanku yang tidak kunjung selesai menarik kasih sayang kedua orang tuaku. Energi mereka sepertinya habis untuk bekerja, mencari uang yang banyak agar anak-anaknya bahagia. Tetapi aku tidak sebahagia yang mereka bayangkan. Okelah aku diberi fasilitas yang memadai, aku tidak kekurangan materi sama sekali, aku hidup enak, dan aku mampu membeli apa saja.


Namun, seakan-akan mereka lupa ada seseorang yang rindu ditanya sudah makan atau belum, bagaimana kuliahnya hari ini, atau satu kalimat saja yang ingin aku dengarkan, ”Mama dan Papa kangen kamu, Nak..!”.

Tidak, semua tidak ada dalam hidupku. Mereka hanya bekerja dan bekerja. Aku seperti menjadi orang asing di keluargaku sendiri. Setiap aku pulang apabila ada libur kuliah, mereka tidak ada di rumah, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sudah mencoba untuk mengerti tetapi tak kumengerti hingga saat ini. Aku coba memahami, tetapi jawabannya hanya bisu, aku seorang diri.


Lamunanku dibuyarkan oleh teriakan Mbok Nah. Ternyata ibu tua itu masih datang saja kesini, aku kira ia sudah tidak punya nyali datang ke sini setelah kucoba untuk menegurnya sebelum ia menghilang beberapa hari lalu. Sepertinya percuma saja aku menegurnya waktu lalu, ia mendengar teguran itu seperti angin lalu saja.

Aku memcoba menegurnya sekali lagi, ”Mbok, tolong teriakannya diperkecil, saya terganggu...! Mungkin tetangga lain juga terganggu!” ungkap saya padanya sambil kuperhatikan rambutnya yang lepek terkena sinar matahari, sungguh lelah pikirku. Sejenak aku bersimpati kepadanya, tetapi Mbok Nah seperti tak mendengar omonganku, ia menurunkan bakul jamunya kemudian mengambil satu gelas kecil.


Ditumpahkan jamu campuran kunyit, asam dan jahe kemudian ia sodorkan padaku, ”Jamunya Mbak! Biar pintar!” pintanya padaku. Entah mengapa aku lupa telah menegurnya sehingga langsung saja aku ambil jamu itu dan kuteguk cepat-cepat. Tubuhku serasa segar dan semangat seolah-olah aku menjadi orang yang baru.

Aku hanya berdiam diri memperhatikannya, kulihat mata Mbok Nah seperti menusukku. Matanya seperti sudah mengalami perjalanan hidup yang panjang, tetapi mata itu senantiasa memberi kasih sayang orang-orang di sekitarnya. Pantas saja warga di sini tidak banyak terganggu oleh kehadirannya. Marahku sepertinya sudah terlunturkan oleh senyumnya yang mengembang manis di depanku. Aku mungkin terlalu naif untuk menilai orang dari luarnya saja karena entah mengapa kutemukan kehangatan dalam dirinya, kehangatan yang tidak kutemui dari orang tuaku.


Aku memberinya selembar lima ribuan kemudian ia keluarkan dompet kecilnya dan mengembalikan tiga ribuan, murah pikirku. Murah untuk lelahnya ia berjalan dari satu desa ke desa lain, sangat murah untuk keringatnya yang bercucuran dari pukul setengah enam pagi, murah untuk senyumnya yang ia berikan untukku. Begitupula warga di sekitar lingkungan kost ini yang merasakan ketulusan senyumnya. Senyum Mbok Nah seperti menampar hatiku yang dingin dan benar kata orang, senyum dapat merubah sikap seseorang dan itulah aku.


Setiap hari kini aku menunggunya, menunggu Mbok Nah yang bersuara lantang itu. Walau suaranya lantang, lain hal dengan sikapnya. Sikapnya sangat lemah lembut dan aku merasakan sikapnya itu sampai ke hatiku. Aku seperti terkena candu jamu pintar yang ia buat. Tak tahu mengapa disebut jamu pintar, ada-ada saja Mbok Nah.

Aku kini sering menunggunya dan ingin mengobrol banyak dengannya. Aku patut mengangkat topi akan semangatnya, dan tahukah, alasan selama beberapa hari lalu ia tidak berjualan jamunya karena ia menghadiri wisuda anaknya yang paling bungsu. Aku tersentak mendengarnya, bagaimana bisa seorang penjual jamu dapat menyekolahkan keempat anaknya yang kini sudah sarjana semua. Aku merasa di tengah himpitan ekonomi seperti ini Mbok Nah bisa bertahan saja sudah luar biasa apalagi dapat menyekolahkan anak-anaknya.


“Yang penting ikhlas to Mbak, kalo gak ikhlas ya gak jalan, yang di atas juga gak redo” ungkapnya padaku dengan logat jawanya yang kental. Sampai saat ini pun ia masih berjualan jamu kendati anak-anaknya telah lulus dan bekerja. Aku tanyakan padanya untuk apa ia melakukan semua itu ia pun berkata sambil tertawa renyah padaku, ”La wong kalo si mbok liat orang minum jamu mbok ngerasa bahagia, gak tau kenapa ya Mbak” sambil dimasukannya botol-botol jamu itu ke dalam bakul dan mencuci gelas yang kupakai untuk minum jamu tadi.


Terbersit dalam pikirku, mungkin itulah yang dilakukan kedua orang tuaku, membuat anaknya bahagia walau mereka jarang memperhatikan aku. Aku seperti menyia-nyiakan energiku untuk memperoleh kasih sayang mereka. Seharusnya akulah yang memberi kasih sayang terhadap ayah dan ibu. Aku tersadar karena melihat perjuangan Mbok Nah, berkeliling desa hingga kulitnya seperti melepuh terbakar sinar matahari. Aku pun menyadari seberkas rumus pintar yang ia berikan secara tak langsung padaku.


Rumus pintar agar melakukan semua kegiatanku dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu dari orang lain. Aku pun tak tahu bentuk ikhlas itu sendiri seperti apa, yang aku tahu aku belajar banyak dari Mbok Nah agar bisa bahagia dengan membahagiakan orang lain dan aku tahu rumus ini akan mengiringi dalam setiap perjalanan hidupku.

***

Perkuliahanku kini sudah semester delapan, semakin dekat kulihat kelulusan di depan mataku. Aku berhasil melewati semua karena rumus pintar yang diberikan Mbok Nah padaku. Tetapi aku agak sedih karena sudah tidak pernah melihatnya lagi berkeliling dari satu kost ke kost lain untuk menjual jamu pintarnya. Katanya ia sudah pensiun dari pekerjaan itu. Mungkin keempat anaknya meminta ia untuk berhenti menjual jamu.


Walaupun aku sempat merindukannya, aku merasa bahagia karena Mbok Nah bahagia. Terima kasih untuk jamu dan rumus pintarnya Mbok Nah...! Akhirnya kuselesaikan cerita ini dengan mengambil nafas panjang dan berkata, ”Aku ingin bahagia dan orang di sekitarku bahagia...” sekali lagi terima kasih Mbok Nah, terima kasih..

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "RUMUS PINTAR MBOK NAH"

  1. Ufh.. hakekat perjuangan hidup. Ikhlas.. Thank's

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)