Dunia Lingga

Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu



Sebuah filosofi yg akan aku kenang selamanya...

Bermula ketika mahasiswa KPM IPB ditugaskan meneliti ke kawasan sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dengan langkah tegap, dan ransel di pundak, senyum terkembang, disana kulihat temanku ada juga yg membawa dua ransel, entah apa isinya..*Ho.hohoh mau ke desa terpencil atau mau pindahan, kawan*. Kulihat ada makanan ringan, makanan berat,s ampai parfum gak lupa dibawa olehnya.

Dengan bayangan akan mendapati beragam hal indah di sana, sepanjang perjalanan aku tak sanggup menutup mata. Kami melewati pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi indah..biru memang indah..hawa dingin pun mulai menyergap kami.

Sebelumnya bnyak terjadi kendala teknis,uang ongkos L300 kurang,mogok di jalan,hingga mobil yg kami tumpangi kala itu,harus dimampatkan menjadi beberapa buah saja.Alhasil,berdesak-desakan,tercium bau kaki,bau badan,bau kayu putih,bau parfum dan semua jadi satu(jd gk kebayang deh baunya..Kalau bisa jgn dibayangin,kburu muntah duluan.Haa).

Karena tak kuasa menahan bebauan itu,ditunjang pula dengan rute ular naga panjangnya bukan kepalang(meliak-liuk tak tentu),aku memuntahkan semua isi perutku..Oh,malu..Dilihat teman2,diping9ir jalan ku keluarkan semua,isinya..Air,tolak angin,dsb..(Pokonamah geuleuh we lah).

Finally,.Sampai juga di k0munitas adat Kasepuhan Sinar Resmi,komunitas yg masih memegang teguh kepercayaan terhadap dewi sri..

Di sana, aku sudah agak segar setelah diasupi tolak angin untk kesekian kalinya(memalukan).Kami disambut dengan alunan gamelan,thats the real village,man..!

Beruntung aku ditempatkan di imah gede,yaitu rumah ketua adat di sana.Rumahnya besar,kawan..Dan yg luar biasa lagi,tak jauh dari rumah itu ada mata air,namanya air kahuripan.Ini dia,ini mata air k0n0n bisa buka aura,dan teman-temanpun berbondong-bondong kesana(ayo,pada ngapain th?)

Makan sambal,sayur asem,pake nasi merah,makin Fauzi Baadila bgt..Ajib..Terutama mahasiswa barbar seperti kami,apapun disikat..Maklum,mahasiswa rantau..

Yang bikin semua jadi 'araraneh' adalah,ketika para wanita,diwajibkan memakai kain kebat atau sarung.Beuh..Semua kerepotan,kendor,awas2 melorot!Asdosku apalagi(heuheu,muph y k lus)..Tmanku Nana lbih ekstrim,dia pakai kain kebat wktu di dalam rumah saja,ketika di teras rumah,kainnya ia pasangkan k pundakny,kyk kabayan gtu..Dngan asumsi ia pakai celana panjang.Nah loh,kok asumsi?

Saatnya penelitian,tunya tanya,transek dr atas smpai bawah hutan garapan,.Luar biasa cape dan 'menyeramkan',foto2(ini hal paling penting),sampai mencoba 'ngalisung',atau bahasa ilmiahnya adalah menumbuk padi(lebai dh ling..).

Beragam hikmah yg kami dapatkan dari penelitian disana:
>kalau mkan nasi gk boleh bersisa,.Salah satu bntuk pnghargaan terhadap petani dan alam
>pakai kain/sarung,manifestasi biar kt lebih sopan,mskipun itu di rumah
>kearifan lokal masyarakat tinggi,mbuatku brkaca,.Bagi mereka,bumi adalah ibu mereka,harus disayang,dihormati keberadaannya.

Kini,kelangsungan komunitas ini terancam oleh adanya taman nasi0nal yg melarang adanya pncarian nafkah di sekitar hutan.

Memang,tidak bnyak yg kami lakukan.Tidak membantu bnyak.Namun stidaknya,smangat masyarakat adat trtular pada kami..Untk terus Lindungi alamku,hormati adatku..

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu"

  1. jadi pengen nih kesana.
    apa harus dari institusi?
    boleh gak perorangan aja?

    BalasHapus
  2. ayoo kesana teh...seru banget...sunda banget...hehe...

    gak harus dari institusi kok, boleh maen aja, cuma ya itu, jauuuh bgt teh...kudu banyak persiapan, hehee

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)