Dunia Lingga

DARI DAE JANG GEUM SAMPAI R.A. KARTINI

o na la o na la a ju o na
ka da la ka da la a ju ga na
na na ni da lyeo do mok no na ni
a ni li a ni li a ni no ne
he I ya di i ya he I ya na la ni no
o ni do mok ha na da lyeo ga ma

Jarum jam menunjukkan pukul lima sore waktu Indonesia bagian barat. Pandangan kedua kakak beradik itu tidak lepas dari kotak ajaib yang memvisualisasikan suara dan gambar-gambar. Sepenggal Opening Sountrack Jewel In The Palace mengalun dengan merdunya sampai-sampai kakak beradik itu, sebut saja namanya Lila dan Anggit terpesona dibuatnya.

“Teteh, lihat deh, bajunya lucu-lucu ya? Anggit mau pakai baju kayak Janggeum!” ungkapnya manja. Sang kakak hanya tersenyum melihat adik kecilnya yang bercita-cita menjadi dokter setelah menyaksikan serial Korea itu.

Sudah episode terakhir, Lila dan Anggit mengikuti dengan seksama. Melihat seorang juru masak istana yang menempuh banyak cobaan hingga dikeluarkannya Janggeum dari istana. Namun berkat kegigihannya ia dapat kembali ke istana dan menjadi medical woman (tenaga medis wanita pertama) kepercayaan keluarga kerajaan pada masa pemerintahan dinasti Joseon di Korea yang dipimpin oleh Raja Jungjong.

“Teteh, kalau sudah besar nanti Anggit mau jadi kayak Janggeum, pinter masak terus bisa ngobatin orang, bolehkan Teh?” tanyanya lagi, kemudian matanya kembali ke layar televisi. “Iya..tapi Anggit harus rajin kayak Janggeum terus enggak pantang menyerah ya!” kakaknya menimpali dan mengelus rambutnya lembut. Sepintas obrolan kakak beradik tadi terasa ringan, tapi tidak disangka hal itu pun yang membawa mereka berkelabat ke kebudayaan negeri ginseng. Bukan hanya kebudayaan yang diperkenalkan, tetapi juga mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu, yaitu sebuah motivasi tinggi. Motivasi untuk tidak mengenal lelah mencapai cita-cita kendati ujian yang begitu berat menghadang, motivasi untuk berusaha sebaik mungkin dan setegar karang.

Tidak salah memang apa yang dirasakan Anggit, sang adik. Ia begitu termotivasi untuk menjadi seperti Dae Janggeum, padahal anak berusia delapan tahun itu tidak tahu apa-apa. Di mana sebuah film dapat membuatnya semangat. Kalaupun memang waktu bermainnya agak tersita, tapi pengetahuan tentang negara lain sangat memukau –dalam hal ini Korea-.

Dari sekelumit ilustrasi di atas saya dapat banyak mengemukakan pendapat yang pernah saya lihat dan sangat menarik dari Korea. Menjamurnya serial Korea saat ini memang tidak dapat dipungkiri memberi andil besar untuk percepatan pengenalan kebudayaan Korea yang begitu uniknya.

Jewel In The Palace atau biasa disebut Dae Janggeum contohnya. Serial ini telah menyihir jutaan orang di Indonesia dan mungkin juga negara lain. Bukan, bukan karena alur cerita atau setting serial tersebut –walaupun ada-, tapi karena begitu mengakarnya budaya Korea yang ditampilkan.
Lihatlah tata sopan santunnya, makanan hingga pakaian yang digunakan sangat mencerminkan budaya ketimuran. Dan satu lagi, cara pengobatan tradisional. Walaupun budaya Korea kini agak bergeser ke arah modern tapi tradisi-tradisi tersebut masih dijalani hingga sekarang. Dari cara mengolah kimchi –makanan tradisional Korea-, pakaian unik yang disebut hanbok dan juga adab sopan santun yang masih terlihat jelas dalam gambaran nyata.

Pada mulanya saya menanggapi serial tersebut biasa saja, tapi lama-kelamaan saya mulai jatuh cinta juga seperti kisah di atas. Yaitu, sebuah kisah nyata Dae Janggeum sang juru masak yang berakhir menjadi the first female royal physician pada zamannya.Saya tidak pernah begitu menanti-nantikan serial produksi channel tv Korea. Dan baru kali ini serial itu membuat saya tidak bisa tidur. Memang, saya tidak pernah melihat Korea secara langsung seutuhnya, akan tetapi gambaran sesosok Dae Janggeum yang mencerminkan kebudayaan Korea membuat saya seperti telah mengenal Korea sejak lama.

Bukan hanya Dae Janggeum, mungkin serial drama lain juga tidak kalah menariknya. Namun, yang saya lihat Dae Janggeum lebih membuat korea wave di Indonesia, bahkan negara lain.
Perjuangan dokter wanita yang tidak kenal lelah ini mengingatkan saya tentang sebuah nasehat bijak Korea. Dikisahkan seorang anak yang dekat dengan ayahnya. Dulu, dia pernah terpuruk lalu bangkit kembali dan sang ayah adalah pahlawannya. Sebelum semuanya sempurna, dan ia masih sangat membutuhkan bimbingan ayahnya, pahlawan itu pun meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia terpukul dan down. Oleh seorang teman diperlihatkan satu titik hitam di atas kertas putih lebar dan temannya bertanya: “Apa ini?”, kemudian ia menjawab, “Titik hitam…”
“Mengapa hanya melihat titik hitamnya saja kawanku, tapi kau melupakan sisa putih yang lain di kertas yang lebar ini? Mengapa hanya satu musibah kau terpuruk dan melupakan nikmat Tuhan yang lain?” dan ia diam. Mungkin merenung. Lalu ia akhirnya menyadari bahwa cobaan tidak akan membuatnya menyerah dan kalah. Ia berusaha dan terus berusaha hingga kini akhirnya mencapai keberhasilan.

Saya teringat ketika di salah satu episode, sang ibunda Dae Janggeum pun berkata yang hampir mirip dengan filosofi tadi. Sang ibu memintanya untuk menjadi juru masak istana kendati akan banyak rintangan yang ditempuh. Saya akhirnya tahu dan belajar banyak. Saya pun teringat seorang teman yang kini menjadi seorang mahasisiwa kedokteran di sebuah perguruan tinggi swasta. Ia mengatakan bahwa pada mulanya ia tidak berminat untuk masuk fakultas kedokteran, tetapi perkataannya tidak sesuai dengan yang terjadi. Lantas saya tanya kepadanya dan ia menjawab, “Gue pengen jadi dokter, kayak Janggeum!” jawabnya pasti.

Saya terkejut, benar-benar terkejut. Serial ini begitu membawa pengaruh yang begitu luar biasa. Saya pun merasakannya, meskipun tidak sama. Ketika itu saya melihat sepintas tayangan Janggeum kecil begitu bersemangat belajar menulis dan keahliannya menulis tersebut disalurkannya untuk meneliti dan hasil penelitiannya dituliskan dalam catatan-catatan. Saya akhirnya berpikir bahwa saya telah menemukan hobi yang saya petik dari kisah nyata itu, kesukaan dan masa depan saya. Yaitu dengan menulis. Dengan menulis apa saja kita dapat menghasilkan apa saja, terutama sebuah karya besar. Lihatlah, apa bila kita bandingkan, Dae Janggeum menjadi seorang yang terkenal karena sejarah mencatatnya, karena sejarah mengenangnya.

Tidak jauh berbeda pula dengan RA -Kartini, ia dikenal karena menulis buku yang fenomenal, Door Duisternis tot Licht atau yang lebih dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang. Sungguh pun begitu emosi saya memuncak, ketika Dae Janggeum meroket dan ingatan saya berkelana ketika R.A Kartini menuliskan kumpulan surat hariannya dalam sebuah buku yang luar biasa. Betapa kedua wanita tadi menjadi sumber inspirasi saya, atau mungkin juga anda. Betapa kematangan jiwa dan keteguhan hati mereka menjadikan mereka “orang besar” di zamannya. Ketika dahulu wanita dianggap kelas dua, dianggap kelas rendah. Ketika sejak dulu wanita ingin memiliki kebebasan menuntut ilmu dan pengetahuan. Ketika perbedaan gender menjadi penghalang untuk berdedikasi.

Walaupun cara kedua tokoh berbeda dalam menantang gejolak rasa ingin tahunya, mengimani hati yang ingin dicurahkan, tetapi semua itu berasal dari menulis. Ketika menulis dijadikan tolak ukur dalam membangun peradaban sebuah bangsa, saya ingin seperti itu. Dan kini, akankah ada tayangan mendidik seperti Dae Janggeum? Akankah Indonesia sama halnya seperti Korea, dapat memerkenalkan budayanya hanya dari sebuah serial yang diangkat dari sejarah negara itu sendiri? Atau akankah kita dapat menghasilkan kembali sebuah karya yang dapat dikenang dunia seperti yang dilakukan R.A. Kartini? Dapatkah kita? Ini mungkin hanya pertanyaan retorik, dapat atau tidak. Jawabannya mungkin dari seberapa besar tekad kita untuk mewujudkan hal itu. Betapa korea wave mewabah Indonesia dengan ide-ide yang menyegarkan. Betapa hal ini memacu saya untuk selalu berkarya dan membuahkan hasil yang baik.

Dari Dae Janggeum, saya tahu banyak
Dari RA Kartini, saya belajar banyak
Dari mereka aku tahu dan belajar banyak
Dari mereka yang memberiku inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya
Terima kasih
Terima kasih



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "DARI DAE JANG GEUM SAMPAI R.A. KARTINI"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)