Dunia Lingga

Rok buatan bibiku

Aku mematung sendiri. Menatap foto-foto keluarga dalam albumku. Ayahku, seorang karyawan swasta yang selalu saja tak kenal lelah untuk mencari nafkah. Kerutan-kerutan di keningnya seakan-akan menggambarkan kerasnya hidup yang ia jalani. Mulai dari menjual bunga, menjadi tukang mengangkut sampah, hingga saat ini, pegawai rendahan. Di foto itu juga ada ibuku, seorang wanita yang selalu menemaninya dan menjaga anak-anaknya, walaupun mungkin lelah kerap kali mendera karena ulah anak-anaknya yang nakal, ibu masih bertahan dengan memberi senyumnya untuk kami.

Tak luput pula kuperhatikan foto-foto selanjutnya, ada bibiku, Bi Ninik. Bibiku ini mempunyai sesuatu yang khas didirinya, bila kulihat matanya, aku yakin semua akan tersihir oleh kelembutannya. Ia menganggap apa yang ia lakukan berguna untuk orang lain. Sudah lama aku tak bertemu dengannya karena aku sedang menjalani masa kuliahku. Aku pun pulang hanya setahun sekali mungkin, saat lebaran dan itupun peluang untuk bertemu bibiku sangat kecil.

Aku merindukan dia, bibiku. Perjuangannya kulihat dari betapa ia bersemangat meniti karir menjadi seorang penjahit pakaian muslim. Aku pernah dibuatkan olehnya sebuah rok yang lucu dan sampai saat ini masih aku pakai, warnanya hijau tua, dengan bordir bunga di bagian bawahnya, sangat cantik sekali.

Kini, usaha jaitannya semakin berkembang dan karyawannya pun semakin bertambah, mungkin sekitar lima atau enam orang. Dahulu, pada awalnya Bi Ninik hanya ingin membantu suaminya agar menambah kepulan dapur. Tapi sebenarnya, kegemarannya dalam membuatkan dan mendesain baju untuk orang lain datang dari hatinya. Aku melihat pakaian yang dijahitnya, memberikan cinta bagi orang yang memakainya. Ia sangat-sangat terampil sampai-sampai tak kulihat cacat dalam pakaian yang dibuatnya. Seperti rok yang ia buat untukku. Aku tak tahu mengapa aku sangat suka menggunakannya, padahal rok itu sudah sangat lama sekali usianya, sekitar dua tahun lalu, ketika aku masih SMA.

”Lila mau jahit apa lagi, entar bibi buatin ya, bawa saja bahannya ke bibi” begitulah perkataannya yang aku ingat ketika aku bertemu dengannya. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Entah kenapa aku merasa sebentar lagi kehilangan dia. Aku langsung menepis perasaan yang tak baik ini. Bibiku yang belum mencapai umur empat puluh memang sangat dekat denganku, wajar bila aku merindukan dia.

Ketika lebaran tahun lalu, aku bertemu dengannya, katanya ia sedang sakit, yang kutahu panasnya tidak turun-turun. Aku langsung menemuinya saat itu juga. Rumah itu rumah yang tak asing bagiku. Bibiku memang menyukai hal-hal yang berbau alam. Kulihat di sekitar rumahnya banyak tanaman hias yang ia rawat dengan baik, walau kini tak seindah dulu, semenjak pemiliknya jatuh sakit, tanaman-tanaman itu sudah banyak yang layu.

Rumah itu seperti rumah pedesaan, memakai bilik kayu dan beralaskan tikar. Itu rumah bibiku. Bukan rumah utama memang, tapi ia lebih suka beristirahat di sana. Aku melihatnya tertidur di kursi panjang dengan selimut tebal melindungi tubuhnya dari sergapan udara Sukabumi yang dingin. Ia menatapku sayu tapi kulihat kegembiraan di wajahnya melihat aku dan ibuku datang menjenguknya. Aku melihat wajahnya semakin tirus saja, matanya yang sayu menyimpan pesan padaku bahwa ia ingin sembuh dan menjahitkan pakaian yang cantik untukku. Semangatnya yang kuat seakan menjadi anti bodi penyakit yang bersarang di tubuhnya.

Bibiku sudah satu tahun belakangan ini tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Menurut dokter ia terkena penyakit leukimia sel plasma. Aku tak tahu banyak tentang penyakit itu dan mengapa ia yang terkena penyakit itu. Aku hanya tahu ia terbaring lemas, tubuhnya panas tak henti-henti apalagi cekungan tajam tergambar di pipinya. Tetapi kulihat ia adalah wanita tercantik di dunia, bukan kulihat dari fisiknya, tapi hatinya. Sampai detik aku bertemu dengannya, ia sedang mendekap seorang anak kecil, anak yang menurunkan garis-garis kelembutannya, Fitra.

***

Aku di sini menemanimu. Aku tahu kau kuat, setegar yang tak orang bayangkan. Jangan bersedih, semangatmu akan mengalahkan penyakit di tubuhmu. Janganlah menangis, aku akan selalu ada di sisimu mempertegas bahwa aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun.

Ingatlah wajah ini, diri ini, jiwa ini, menunggumu untuk bangkit. Biar semua orang berkata apa, biar rambutku tak bersisa, aku akan terus hidup seribu tahun lagi karena kamu kutunggu untuk membelaiku, membasuhku dengan harapan dan segera mungkin air mata ini akan kuhapus.

Ingatlah kesedihan harus pergi dari dirimu karena bukan jiwa ini saja yang menunggumu, dia pun menunggumu. Dia yang selalu kau beri senyum terdalam, dia yang suci seputih kapas, menanti dekapan tanganmu agar engkau berkata “Kemarilah Nak…Biar kupeluk engkau!”. Dia anakmu. Lihat! Dia menunggumu bangkit seraya berkata “Aku sayang Mama…”

Aku membolak-balik tulisan itu. Tulisan Bi Nik sebelum ia meninggal. aku melihat semangat dalam dirinya untuk sembuh dan dapat membelai anaknya penuh cinta. Seakan-akan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Seakan-akan pula ia berbicara pada anaknya bahwa ia siap mendengar celoteh Fitra.

Aku pun tak menyangka akan kehilangan Bi Nik secepat ini. Sampai-sampai aku tidak datang ke pemakaman beliau karena hari itu aku sedang ujian semester. Itu pun aku baru tahu sehari kemudian, mungkin ayah takut berita ini membuat ujianku berantakan. Mungkin iya, karena sebelumnya pun aku merasa hatiku sangat tidak enak, hatiku serasa sempit, sesak, dan entah kenapa hari itu aku ingin sekali memakai rok yang ia jahitkan untukku, rok buatan bibiku.

Saat kubacakan curahan hati Bi Nik, Fitra masih belum mengerti, yang ia tahu, ibunya kini tak sempat lagi menemaninya bermain, tak sempat lagi membukakan sepatunya sehabis pulang sekolah dasar dan juga tak sempat lagi menjahitkan pakaian muslim yang cantik untuknya. Kesempatan itu mungkin hanya akan ia kenang sebagai kado terindah saat ia besar nanti, saat ia menjadi seorang ibu.

Fitra menggelayut manja di tanganku. Setiap aku melihat wajah Fitra, ia seperti penjelmaan Bi Nik, sangat lemah lembut dan murah senyum. Tapi aku tak tahu bagaimana kehidupannya nanti, kepada siapa ia akan menceritakan cinta pertamanya, kepada siapa ia akan mendapatkan cerita pengalaman hidup menjadi seorang ibu saat ia menjadi seorang ibu. Ah, tidak dapat kubayangkan itu karena aku masih punya seorang ibu yang mendengar keluh kesahku.

Aku sempat bertanya pada Fitra sebelum aku kembali menata masa depanku dengan menuntut ilmu. Aku bertanya padanya: ”Fitra, kangen enggak sama Mama, terus kalo Fitra udah gede, cita-citanya jadi apa sih?” sambil ku elus-elus rambutnya yang ikal. Fitra pun berkata dengan riangnya, ”Kangen sama mama, Fitra mau dibuatin baju lagi sama Mama...tapi gak bisa ya Kak? Mama udah gak bisa lagi, mama udah pergi, jadi Fitra aja yang buat baju, nanti bajunya untuk orang-orang...kayak Mama ya Kak..!!” kulihat bulu matanya yang lentik Fitra seolah-olah menutupi kesedihannya. Aku hanya menempelkan dagu ke leherku sebanyak dua kali karena suara ini seperti tercekat tak bisa berkata apa-apa lagi.

Aku mendapat sesuatu yang paling berharga kudapatkan dari Bi Nik, bahwa hidup adalah sesuatu yang harus kita hargai, apapun bentuknya, jangan jadi manusia yang hidup hanya sia-sia, janganlah selalu bergantung dengan orang lain, berusaha dan selalu menjawab tantangan yang diberi alam, walau kita tak tahu, mungkin, alam tidak berpihak pada kita. Aku pun akan mengingatnya sampai berlanjut umurku, rok buatan bibiku, tetap penuh dengan cinta dan aku ingin hidup sepertinya, memberi kepada orang lain dengan cinta. Hingga saat ini pun aku masih melihatnya, rok buatan bibiku, warnanya hijau tua, sangat cantik, dengan bordir bunga-bunga di kedua sisinya. Rok buatan bibiku...rok inspirasiku...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rok buatan bibiku"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)