Dunia Lingga

Last Sakura

“Moshi-moshi…!”sambil mengucek-ngucek mataku yang masih ingin terpejam. Entah siapa yang menelepon malam-malam begini. Dengan suara yang tak karuan, aku mencoba tetap terjaga.

“Hai, kamu tidur saja. Besok hanami yuk ke taman Hikarigaoka!” baru kusadari, seseorang yang sekelas denganku, Yukiko mengajakku untuk melihat bunga sakura. Tentu saja aku sangat senang, kesempatan ini tidak datang dua kali. Terutama bagiku yang ingin mengetahui keadaan kota Tokyo apabila bunga sakura bermekaran. Pasti sungguh indah.

“Baik. Setelah pulang dari Baito” jawabku padanya. Aku kerja part time di negeri sakura itu, menjadi seorang pelayan restoran. Aku melakukan hal ini karena aku memang kesulitan uang. Bagi mahasiswa sepertiku, apalagi hanya mengandalkan beasiswa dari pemerintah Indonesia dan Jepang, aku tidak akan dapat bertahan.

Memang, aku merupakan salah satu remaja yang beruntung mungkin. Aku pun tidak menyangka mendapatkan beasiswa ini. pada mulanya aku hanya mencoba-coba mendaftar ke salah-satu program studi Jepang di Indonesia. Alhasil, aku dinyatakan lulus dan berhak menimba ilmu di negeri tersebut.

Hari ini suasana kota Jepang sangat cerah sekali, aku menjadi semakin bersemangat untuk pergi ke todai, Tokyo daigaku tepatnya, menimba ilmu di universitas yang cukup terkenal ini.

Pada mulanya aku tidak kerasan hidup di kota yang penduduknya lebih mengutamakan disiplin. Selain budaya yang berbenturan, aku masih belum lancar berbahasa Jepang, apalagi mengingat jalan-jalan di kota Tokyo, semua ditulis dengan huruf kanji. Sangat membingungkan.

“Bunga sakuranya indah ya!” Yukiko-san, lebih sering kupanggil dengan Yukiko saja menunjuk salah satu pohon ciri khas Jepang itu. Melihat bunga sakura atau biasa disebut hanami merupakan tradisi rakyat Jepang, mulai dari anak kecil hingga dewasa, juga kakek dan nenek semua berkumpul di taman itu. Ada yang membawa makanan, main musik, dan minum-minuman keras sudah menjadi tradisi rakyat Jepang setahun sekali.

Yukiko, teman di todai yang paling dekat denganku sangat baik hati. Ia selalu membantuku apabila dalam kesulitan, apalagi dalam mempelajari tulisan kanji yang membuatku pusing.

Yukiko pun sering bertanya mengenai Indonesia, ia sangat antusias apabila aku menceritakan sekelumit tentang Indonesia, negeriku. Yukiko yang berkulit putih itu berbeda dengan teman-temanku di todai yang lain. Mereka terbiasa melakukan sesuatu hal sendiri, sangat individualis.

“Itu jenis bunga sakura Someiyoshino, menurutku itu yang paling indah” Yukiko menjelaskan padaku sambil menunjuk ke atas, aku mencari-cari sambil mengikuti jari telunjuknya.

“Aa…are desu ne” aku dan Yukiko sama-sama tersenyum, hari itu hari terindah dalam hidupku. Aku mempunyai teman menghargaiku, teman yang tidak membeda-bedakan asal usul seseorang. Aku memang benar-benar beruntung.

***

Aku sendirian di sini, kalaupun ada itu pun hanya Yukiko yang selalu mengajakku keluar. Terkadang, aku merindukan ibu dan adik-adikku di Indonesia. Suasana bulan puasa yang hangat apabila bersama mereka. Dan kini, aku harus berjuang sendirian, terlebih lagi pada bulan puasa waktu itu. Waktu imsak dan berbuka yang tidak menentu dan udara yang tidak cocok denganku membuatku semakin mengingat rumah.

“Udah, kamu lebih baik ke Jepang. Dari pada kuliah di sini, kita lebih membutuhkan banyak uang” masih teringat kata-kata ibu waktu itu, sewaktu aku bingung karena aku pun diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia.

“Tapi bu…” sanggahku padanya. Aku takut, aku tidak berani sendirian di sana, apalagi tidak ada yang aku kenal.

“Sudahlah, kesempatan ini tidak datang dua kali. Kamu harus mencoba” akhirnya aku menurut saja permintaan ibu. Aku juga tak mau jika membebeni ibu dengan biaya kuliah di Indonesia yang lebih mahal.

Terdengar samar-samar seseorang mengetuk pintu. Aku melamun rupanya, mengingat hari terakhir bertemu ibu satu tahun yang lalu. Rupanya Yukiko yang mengetuk pintu, kemudian kupersilakan ia masuk ke ruangan sempit ini.

“Tidak lama lagi kau akan pulang ke Indonesia, kita jalan-jalan yuk” pintanya tulus padaku, dan aku tidak kuasa menolaknya.

“Kore puresento desu doozo!” ia memberikan sesuatu untukku, sebuah kotak yang diselimuti kertas kado. Aku pun segera membukanya. Rupanya beberapa bunga sakura yang telah awetkan. Yukiko terseyum manis padaku. Aku pun berterimakasih padanya.

“Kelak kita tidak akan bertemu lagi” ungkapnya padaku, aku hanya terdiam. Kelak kita memang tidak akan bertemu lagi, tidak! Kita pasti bertemu lagi yakinku dalam hati.

Hari itu aku dan Yukiko berjalan-jalan, kota Jepang memang sangat padat sekali. Dan kini aku sudah terbiasa dengan gaya hidup mereka, dengan sikap mereka yang selalu bekerja keras.

Tidak terasa sudah hampir dua belas bulan aku di sini, itu artinya harus meninggalkan kota yang membuatku jatuh cinta. Kota yang darinya aku banyak belajar, mulai dari berbahasa jepang, belajar huruf kanji, dan mengetahui tradisi yang selama ini melekat.

Aku pun mengepak barang-barang yang ada di kamar, mengaturnya sedemikian rupa agar terlihat rapi dan cukup di taruh di koper. Kumasukkan satu demi-satu barang yang memungkinkan untuk dibawa. Kulihat hadiah yang diberi oleh Yukiko waktu itu, dan aneh, kulihat ulang bunga sakura yang diberikan oleh Yukiko seminggu yang lalu.

Bunga itu entah mengapa berbeda kulihat. Terlihat lebih kelam dan warnanya tidak semenarik waktu itu. Dan yang membuat aku bergidik, bunga sakura itu mengeluarkan beberapa tetes air! Aku semakin tidak mengerti, bukankah bunga tersebut sudah diawetkan. Mana mungkin, aku melihatnya sekali lagi dan benar, bunga itu seperti menangis, menangis. Ya Tuhan, ada apa ini?

Keherananku kemudian terhenti oleh suara Yukiko yang nyaring, ia masuk kemudian membantuku tanpa berkata apa-apa. Wajahnya mengisahkan kesedihan yang mendalam, terlihat lebih misterius. Mungkin karena kita tidak akan bertemu lagi. Kalaupun bertemu, akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Desu ka?” tanyaku halus padanya, ia kemudian membenarkan poni rambut yang jatuh ke matanya.

“Daijobu desu yo, aku cuma sedih kamu pergi! Aku tidak mempunyai teman seperti kamu lagi. Tapi, kamu harus janji. Jangan lupakan aku ya!” ia tertunduk sedih, akupun demikian.

“Hai, mochiron” jawabku mengiyakan permintaannya. Tentu saja aku tidak akan melupakan semua pengalamanku di Tokyo, terutama bertemu dengan teman sepertimu, Yukiko.

Yukiko, seseorang yang membuatku nyaman tinggal di sini. Membuatku melupakan sejenak tentang rasa rinduku pada ibu, adik, dan teman-temanku di Indonesia. Dan kini, aku harus kembali ke Indonesia, menyimpan semua kenangan di kota Tokyo ini.

Semua sudah diurus oleh pemerintah Jepang, tentang kepulanganku ke Indonesia. Mulai dari administrasi hingga tiket pesawat siang ini. Aku pun tidak lagi bertemu teman-teman sekelasku setelah acara perpisahan tiga hari yang lalu, karena terlalu sibuk mengurus barang-barang yang masih berantakan.

Selama tiga hari itu pula, Yukiko selalu membantuku mengepak barang-barang. Dia selalu menyempatkan datang ke tempatku setelah pulang kuliah. Dan kini, aku harus berterimakasih padanya, berterimakasih atas segala yang ia berikan untukku, persahabatan.

Akhirnya semua sudah selesai, siang itu aku harus berangkat. Namun, ada satu yang belum aku selesaikan. Aku harus berterimakasih pada Yukiko dan memberinya sedikit kenang-kenangan. Batik ini, batik budaya Indonesia. Batik yang dibelikan oleh ibuku setahun yang lalu sewaktu aku akan berangkat. Walaupun nyatanya hingga kini aku tidak pernah memakainya.

Kutapaki jalan menuju rumah Yukiko dengan terburu-buru, karena siang itu juga aku harus ke bandara untuk kembali ke negeri asalku, Indonesia. Kucari rumahnya yang cukup besar, aku masih ingat ketika sekali Yukiko mengajakku ke rumahnya, itupun hanya sekali, karena aku tidak terlalu akrab dengan keluarga Yukiko.

Kutekan bel rumah Yukiko, melongok kesekitar. Rumahnya terlihat sepi, kemudian seorang wanita tua menghampiriku dan menatapku penuh selidik. Mungkin karena wajah dan kulitku yang agak berbeda dengan mereka.

“Sumimasen, Yukikonya ada?” tanyaku padanya, sembari tersenyum hangat memberi hormat padanya.

Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah, mendadak pucat dan gemetaran. Suaranya menjadi parau dan heran melihatku.

“Mengapa kau mencari Yukiko?” ia kemudian keluar dari pintu dan mendekatiku. Lalu diam.

“Watashi wa Nina desu, saya temannya Yukiko. Saya ingin memberikan ini padanya” jawabku padanya penuh hormat sambil menunjukkan hadiah yang kubawa. Aku menjadi heran, orang tua itu langsung menangis sesegukan, kemudian mengelap air matanya yang jatuh ke pipi.

“Kau tidak tahu, tiga hari yang lalu Yukiko meninggal, ia kecelakaan ketika pergi ke rumah temannya” ia kemudian mengelap kembali air matanya yang jatuh. Tiba-tiba saja kepalaku menjadi pusing. Ini tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin. Tiga hari yang lalu Yukiko membantuku mengepak barang, tidak mungkin!

Seluruh bagian tubuhku terasa kaku mendengarnya, ku tanya ibu itu sekali lagi dan ia mempersilakanku untuk masuk. Melihat kenangan terakhir yang Yukiko tinggalkan. Aku ceritakan pada ibu Yukiko aku bertemu dengannya selama tiga hari itu. Ia hanya tersenyum miris melihatku.

“Tidak mungkin, Yukiko sudah meninggal semenjak tiga hari yang lalu” tubuhku merinding sejadi-jadinya. Lalu, siapa yang datang ke kontrakanku? Aku bertanya dalam hati. Bukankah itu Yukiko?

Di pesawat aku hanya terdiam, tidak percaya. Aku ingat tiga hari yang lalu, Yukiko datang membantuku, aku yakin itu Yukiko. Ku buka hadiah yang diberikan olehnya padaku waktu itu. Bunga sakura.

Perlahan-lahan kubuka kotak kecil itu, aku kembali tersentak. Bunga itu kembali seperti semula, seperti pertama kali Yukiko berikan padaku. Aku semakin tidak mengerti. Tiga hari yang lalu…

Aku menangis pilu melihatnya. Yukiko, aku akan terus mengenangmu. Dan bunga ini menunjukkan bahwa kau bahagia di sana. Dan aku pun yakin, bahwa bunga ini takkan bersedih lagi karena kehilanganmu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Last Sakura"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)