Dunia Lingga

Pelangi di Hati Ambu

Matahari ternyata mau juga menampakkan sinarnya di desaku. Setelah lama ia bersembunyi karena kabut dan hujan yang mengguyur desaku semalaman, sinarnya membuatku lebih bersemangat untuk pergi ke sekolah. Motor baru yang bapak berikan kepadaku sudah kotor luar biasa. Maklum saja karena jalan becek dilanda hujan berhari-hari. Hari ini aku pun sangat senang sekali setelah mendapat kabar bahwa akan ada rombongan mahasiswa-mahasiswi Bogor yang akan penelitian di desaku. Aku menyeruput teh hangat buatan mama kemudian mengikatkan tali sepatuku kuat-kuat. Aku menghampiri mama untuk berpamitan dengannya sembari mencari tahu kebenaran informasi itu.

“Mama, mahasiswa ti Bogor bade ka dieu ? Bade penelitian deui, Ma?” tanyaku bertubi-tubi padanya. Dia hanya mengangguk perlahan kemudian langsung menatapi kembali matahari pagi yang konon menyehatkan. Suasana kali itu memang lain dari biasanya. Sedari pagi sangat cerah, pepohonan tinggi yang biasa menutupi masuknya cahaya matahari tidak berkutik karena cahaya matahari mencari cara untuk sampai ke rumahku, imah gede. Kala itu Mama, panggilan yang hanya aku dan adikku yang boleh memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Jika orang lain mendengar mungkin aku akan dimarahi habis-habisan, apalagi oleh bebenteng di desa ini. Jika dapat kujelaskan bahwa bebenteng adalah seorang juru bicara desa ini, seseorang yang dapat berkomunikasi dengan masyarakat luar agar desa ini terdengar gaungnya.

“Ambu, tos beres sadayana, abdi bade pamit heula” sesosok ibu tua, namanya Bu Rahma memohon izin pada ibuku untuk pulang ke rumahnya karena kewajibannya membantu di dapur imah gede sudah selesai. Ibuku tersenyum padanya dan memberikannya beberapa lembar uang lima ribuan, ibuku bilang itu untuk anaknya. Memang tidaklah seberapa aku lihat, mungkin bagiku yang sudah berkecukupan. Aku benar-benar beruntung menjadi anak ibuku, hidupku tidak kekurangan sesuatu apapun. Ibu adalah istri dari seorang ketua adat, yang tak lain adalah ayahku. Sebelumnya memang belum kuceritakan bahwa aku adalah anak dari ketua adat di desa kami. Ketua adat memegang tampuk kepemimpinan yang luar biasa di desa ini bahkan terkadang kekuasaannya dapat melebihi kepala desa atau lurah. Waktu itu pernah ada suatu acara di desaku, acara gotong royong yang digalakkan oleh desa. Tetapi ternyata, masyarakat desa sedikit sekali yang datang. Lain halnya ketika ayah yang menitahkan masyarakat untuk bergotong royong membersihkan desa, warga begitu antusias hingga banyak sekali yang mengikuti kegiatan tersebut,

Desaku memang jauh dari perkotaan, walaupun jalannya sudah diaspal, tetap saja orang yang baru kesini akan mabuk darat, muntah-muntah. Pemandangan sekitar jalan memang sangat asri, banyak kebun,pepohonan yang menjulang tinggi juga warung-warung kecil di sampingnya. Aku pernah mendapati kakak-kakak mahasiswa muntah-muntah setelah sampai kesini, beberapa mahasiswa yang sengaja datang untuk mengetahui lebih jauh adat dan kebiasaan kami. Pada mulanya aku tidak senang para mahasiswa itu datang ke rumahku karena terkadang tata perilaku mereka tidak sesuai dengan apa yang aku biasa aku lakukan. Mereka sering sekali mengobrol hingga larut malam dan yang paling aku soroti adalah tata cara berpakaian mereka. Seharusnya mereka tahu bahwa ini adalah desa, masih saja ada yang memakai sepatu hak tinggi. Aku tertawa kecil ketika mereka diharuskan memakai sarung untuk wanita dan untuk lelaki memakai celana panjang biasa. Peraturan memakai sarung bagi siapapun yang berkunjung ke rumahku memang sudah turun-temurun dilakukan. Aku pernah memergoki salah satu mahasiswi kesulitan memakai sarung sehingga sering terlepas dan ia pegangi ujungnya. Ada-ada saja tingkah para mahasiswa itu. Akan tetapi ternyata, hari-hari itu kurindukan. Keramaian itu kurindukan…dan sebentar lagi hari itu akan datang…

***
Suara gamelan mengiringi indahnya jumat siang kali itu. Aku tahu jika panggung hiburan di samping rumahku penuh dengan bebunyian, maka akan menyambut seseorang atau mungkin rombongan orang. Mama sudah berdandan dan berpakaian rapi, kebayanya kali itu berwarna kuning keemasan. Mama semakin terlihat cantik ketika perhiasan di tangan dan telinganya bergemerlapan. Mama memang bak ratu, dengan kulitnya yang putih, ia seperti putri cina. Bapak pun sudah rapi dengan pakaian khas adat, pakaian hitam dengan tulisan di saku sebelah kanan ‘Kasepuhan Adat’ dan juga memakai topi khas adat, seperti blangkon khas jawa tetapi bolong di tengahnya.

Aku mengintip dari kejauhan, ada sekitar 20 mahasiswa di ruang tamu, di rumah panggungku yang besar ini. Banyak dari para mahasiswi itu memakai kerudung, hanya beberapa yang tidak memakai penutup kepala. Sedangkan ada dari salah satu mahasiswa seperti artis yang sering aku lihat di televisi. Kulitnya putih, tubuhnya tinggi menjulang dan hidungnya sangat mancung, ganteng sekali pikirku.

Mama dan bapak memberikan sepatah dua patah kata untuk menyambut para mahasiswa itu. Pada mulanya suasana sangat canggung akan tetapi segera mencair dengan candaan bapak yang membuat para mahasiswa itu tergelak. Bapak memang terlihat menyeramkan, dengan rambutnya yang panjang dan janggutnya yang lebat, tetapi karena itulah bapak, terlihat ‘mistis’ di luar tetapi hatinya sangat halus.

“Ambu dan Abah pamit dulu, silakan yang mau istirahat, sudah Ambu siapkan kamarnya, nah, di sebelah sana!” sambil mengajak para mahasiswa itu memasuki kamarnya masing-masing. Kamar di imah gede, rumah panggung ketua adat memang banyak, untuk kamar tamu saja ada sekitar tiga kamar yang masing-masing dapat menampung lima orang. Mahasiswi sebanyak sepuluh orang sudah masuk di kamarnya masing-masing sedangkan untuk para mahasiswa di tempatkan di rumah kerabat kasepuhan, tidak jauh dari rumah panggungku.

Aku mendekati mama ketika aku hanya berdua saja dengannya. Mama memelukku erat dan mencubiti pipiku halus. Kejadian itu memang tidak akan lama, aku dan mama akan kembali berdiam diri. Mama akan larut dengan kewajibannya sebagai Ambu di rumah ini, sebuah jabatan tertinggi di sebelah ketua adat. Memang, dahulu, sebelum pindah dan dinobatkan menjadi ketua adat di sini, aku merasa sangat dekat dengan mama. Aku tidaklah harus memanggilnya Ambu, panggilan komunitas adat di sini. Ambu yang dalam artian adalah ibu bagi komunitas di sini, bahkan, orang yang lebih tua dari mama, tetap memanggilnya Ambu dan aku pun diharuskan memanggilnya seperti itu. Memang pada mulanya aku merasa janggal dengan panggilan itu karena selama lebih dari tujuh tahun aku memanggilnya mama dan kini harus dibiasakan memanggilnya Ambu.

Perjuangan mama dan bapak menjadi orang nomor satu di komunitasku tidak segampang apa yang orang lihat. Orang luar mungkin melihat bahwa menjadi pemimpin komunitas ini dapat dengan mudah karena kepemimpinan yang turun temurun. Jangan salah, mama pernah tidak punya satu perabotan masak pun ketika sampai di imah gede ini. Bapak pun sempat dipertanyakan kepemimpinannya karena masyarakat sangsi akan usianya yang masih muda. Namun, mama tetap berjuang dan mendukung bapak apapun bentuknya. Ia rela mengorbankan gaya berpakaiannya dahulu, ia rela harus mempelajari bahasa sunda dengan baik dan benar karena ia bukanlah keturunan komunitas asli di sini. Mama pun sempat difitnah bahwa ia adalah warga keturunan cina karena kulitnya yang putih dan matanya yang agak sipit maka ia tidak boleh mendampingi bapak sebagai istri dari ketua adat. Gencaran fitnah dari banyak orang tidak membuatnya berputus asa. Semua itu malah membuatnya semakin berjuang dengan keras agar bapak menjadi ketua adat, dengan cara yang benar tentunya.

Mama selalu mendampingi bapak meskipun banyak yang menyangsikan bahwa wangsit itu jatuh pada suaminya. Wangsit yang dipercaya oleh masyarakat bahwa jika mimpi atau pertanda jatuh pada seseorang, maka dialah yang memimpin komunitas ini. Mama pun sering dianggap akan membawa perubahan negatif dalam komunitas ini karena wajahnya yang seperti orang cina. Masyarakat takut bahwa mama akan mempengaruhi bapak agar adat-istiadat di desa ini berubah. Entah mengapa kesangsian itu seperti bola salju yang semakin lama semakin membesar. Mama sempat menangis di kamar sendirian ketika bapak melarangnya untuk keluar mendampingi bapak. Aku sempat mendengar dan melihatnya menangis, tetapi tangisan itu cepat-cepat dihapusnya dan kembali ke dapur untuk memasak. Aku benar-benar ingat kejadian itu padahal umurku baru delapan tahun. Aku masih ingat pelukan hangatnya ketika itu, ketika ia ingin mencurahkan perasaannya padaku walaupun hanya dengan memelukku.

Kini, pelukan itu terasa hambar di tubuhku. Mungkin karena aku yang menolak pelukan itu. Mama bukan mamaku yang dahulu. Mama kini harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia tidak pernah lagi tertawa tergelak bersamaku ketika menonton sinetron komedi. Pakaiannya pun kini harus selalu rapi, jarang aku lihat ia memakai daster yang dahulu sering ia pakai. Jarak itu sepertinya semakin melebar ketika bapak benar-benar diterima masyarakat menjadi ketua adat. Aku tahu mama tidak ingin pula seperti ini. Ia juga masih ingin dipanggil mama, bukan Ambu, panggilan jabatannya. Mama pun terkadang diam-diam memelukku ketika tidak ada satu pun pekerja atau komunitas adat yang melihat. Hatiku gerimis mama…hatiku pun sedih melihat bentangan jarak di antara kita. Jarak yang dibuat oleh lingkungan. Ingin rasanya aku pun memelukmu selama mungkin, merasakan kehangatan seorang ibu, merasakan nikmatnya masakan buatanmu. Kini kau telah disibukkan oleh kewajibanmu sebagai istri dari ketua adat yang harus senantiasa mendengar keluh kesah masyarakat, tetapi jarang mendengar keluh kesahku.

Aku maklum dengan keadaan itu sehingga aku pun menyibukkan diri dan bermain dengan teman sebayaku. Ketika kudengar para mahasiswa itu akan datang kemari, aku begitu antusias karena rumah ini tidak akan sesepi biasanya. Di sana akan ada gelak tawa, candaan dan saling sapa. Aku pun dapat mengenal salah satu dari mahasiswi yang datang untuk penelitian. Sampai saat ini aku masih mendapat kabarnya melalui sms. Walaupun komunitas kami terpencil, tetapi yang aku takjub adalah teknologi yang masuk ke desa kami, baik berupa handphone, sampai televisi.
Namanya Kak Lila, mahasiswi yang mematahkan rasa kesalku pada mahasiswa yang terkadang kemari dengan menjengkelkan. Kak Lila yang berperawakan tinggi besar dengan jilbab melekat di kepalanya membuatku melupakan sepinya hari-hari karena mama jarang di sampingku. Ia mengajariku banyak hal, mulai dari mengajariku menghidupkan laptopnya yang mini, juga mengajari aku mengetik. Katanya, aku harus banyak menulis, agar dikenal orang dan juga dapat mengatasi kesepianku. Menulislah mulai dari hari-harimu, dari buku harianmu, katanya.

Kata-kata itu aku ingat baik-baik. Aku memang kesepian, tanpa mama, tanpa bapak. Yang ada hanya Ambu dan Abah…Aku mengerti semua ini, mengerti dengan semua yang terjadi padaku. Mama bukan milikku lagi, bapak bukanlah milikku lagi. ia sudah menjadi milik masyarakat, menjadi milik warga komunitas yang menuntut perubahan yang berarti atas konflik yang terjadi di desaku, mengenai penggusuran warga komunitas karena akan adanya program perluasan lahan hutan lindung.

Mama, aku kini tidak akan menuntut banyak darimu. Aku tahu, sebenarnya cinta itu masih sama besarnya seperti dahulu. Mama, aku pun tahu kau sedih tidak dapat memelukku seperti dulu, seperti pelukkan hangat yang pernah kau berikan sebelum kau menjadi “Ambu” tapi aku teringat suatu pribahasa bahwa surga di telapak kaki ibu tidak akan hilang dari ingatanku. Aku akan tetap mencintaimu walaupun kau berubah sekeras apapun. Kau tetaplah mamaku, kau tetap Ambuku…
***

Mama, kau lihat matahari sore kali ini, lihatlah, kau kan senang melihatnya mama. Mama, lihat pelangi itu…kau begitu senang bukan memandangnya? Karena kau pernah dikelilingi pelangi sewaktu muda dahulu. Kau pernah bercerita mengenai pelangi yang ada di warnanya jatuh di kakimu …indahnya seperti sayangmu bukan, Ma? Indahnya seperti hatimu, bukan? Seindah hatiku yang kini menerimamu apa adanya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pelangi di Hati Ambu"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)