Dunia Lingga

Maka, mulailah dari membaca...!

Debu jalanan akhirnya terbasuh dengan derasnya air hujan pagi itu, aku mengawali hari dengan seurat senyum yang tidak biasanya. Hari itu tepat ulang tahun temanku, Tiwi, yang genap berusia dua puluh tahun dan aku baru saja mengirimkan ucapan milad padanya. Hari itu pula aku tidak ada praktikum di kampus, jadi bisa dengan leluasa menghadiri seminar yang diselenggarakan UI. LIMAS UI, merupakan kependekan dari Lomba Ilmiah Mahasiswa Sosial dan Politik UI dengan mengusung tema “Memaknai Globalisai: Indonesiaku Kini, Indonesiaku Kelak”. Acara tersebut merupakan salah satu kegiatan dari serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UI.

Aku cukup tertarik, hari itu hatiku memuncak, menyeruak, ah, entah kenapa hal itu terjadi. Mungkin karena aku ingin sekali bertemu dengan penulis yang besar di Tanjung Pandan, Belitong. Siapa lagi kalau bukan Andrea Hirata. Akhirnya, aku menekatkan diri untuk ke UI. Ternyata banyak fenomena sosial yang kutemukan di sana. Tidak berbeda seperti yang terjadi di IPB, wilayah kampus sungguh ramai oleh manusia-manusia yang konon katanya menuntut ilmu dan mengamalkannya untuk masyarakat umum atau mungkin beberapa dari mereka atau mungkin keseluruhan dari mereka hanya mengejar status, dikeningnya seperti ada cap besar: LULUSAN S1!

Aku pun mungkin demikian, menatap hidupku dengan cap seperti itu, atau lebih parah lagi, mungkin judul cap dikeningku adalah; ”SIAP NGANGGUR”. Ah, itu mungkin patut aku ungkapkan, karena kenapa, aku merasa akhir-akhir ini hampa, yang aku pikirkan hanyalah selembar kertas yang diberi nama ijasah. Saat aku merasakan fenomena itu, aku pun tergelak, ah, berarti, untuk apa aku sekolah, kuliah dan semacamnya jika tujuannya untuk selembar kertas tersebut.

Aku pun teringat ucapan dosen pembimbingku yang sangat baik, ia sudah kuanggap ibuku sendiri. Di dalam hatinya penuh dengan aura motivasi yang bisa merambat kepada siapa saja, khusunya aku. Menurutnya, untuk apa kita sekolah, kuliah? Ia hanya berkata: ”Untuk mengasah pola pikir kamu, Lil!” katanya menyeru padaku. Ah, benar juga, ternyata, sekolah sebenarnya untuk mengasah pola pikir kita. Sewaktu ia mengatakan itu padaku, aku melihat di wajahnya penuh kerutan, entah apa yang terjadi di masa mudanya, tetapi walau penuh kerut, ia sangat cantik. Kerudung yang dipakainya sangat rapi, dengan dihiasi bros bunga matahari yang ditengahnya ada mutiara berwarna hijau. Pakaian yang ia kenakan pun sangat enak dipandang, tidak seperti pakaian dosen pada umumnya. Aku salut dengan keberaniannya merencanakan membangun mini market di lingkungan kampus. Tentu saja hal ini menjadi bahan pro kontra mahasiswa yang menyatakan bahwa membangun mini market di linkungan kampus merupakan KAPITALISME. Tapi, aku tidak ikut-ikutan, bukan berarti aku mahasiswi yang tidak aktif di kampus, tetapi, ada hikmah di balik pembangunan mini market itu dan hal itu sudah kusadari sejak awal, aku sejajan dengan Dosenku Sahabatku tercinta, biarlah jadi ladang pekerjaan, dan ternyata: IT WORK...! sekarang omset minimarket setiap harinya sekitar & juta rupiah, entah berapa keuntungan yang dihasilkan.
Menurut Dosenku Sahabatku tercinta, mulailah membangun kampus ini dari hal yang kecil, kamu juga Ling, katanya. Cobalah untuk mencari uang sendiri, yah, kecil kecilanlah. Misalnya, jualan krudung, jualan pulsa atau apapun itu meskipun keuntungannya masih sangat sedikit. Cobalah untuk tidak membebani orang tuamu dengan urusan tetek bengek di luar urusan kuliah, misalnya tadi: Seminar di UI (yang pasti membutuhkan butuh uang jalan).

Aku setuju Dosenku Sahabatku tercinta, sangat setuju...Karena setelah kuhitung-hitung misalnya, biaya makan sekitar (Rp700.000x12bulan)+ Kostan Rp2.000.000 + uang semester 3.000.000. maka akan di total-total sekitar Rp13.400.000 dan apabila dijumlah selama 4 tahun lama pendidikan akan menelan biaya sebesar Rp53.600.000, suatu angka yang luar biasa banyaknya, ini pun hanya sebatas kuliah, belum pengeluaran dari kecil hingga SMA. Subhanallah, aku malu, benar-benar malu. Uang tersebut sedapat mungkin untuk naik haji Bapak atau Mamaku. Selama ini pun aku baru menyadari bahwa, pengorbanan orangtuaku sangat luar biasa, kenapa aku menyia-nyiakannya. Astagfirullah...

Pendidikan pun dibahas pada seminar tersebut, ada tiga pembicara yang hadir di antaranya sang pembuat memoar Laskar Pelangi yang terkenal, Andrea Hirata, ada juga Qaris Tadjudin yang seorang redaktur Tempo lulusan AL Azhar Cairo dan sempat meliput perang US-taliban, belum lagi seorang Oktian Arijito, mahasiswa UI yang menjadi pemenang PIMNAS 2007 di Lampung. Seminar tersebut diberi judul ”Menulis, Siapa takut?”. ya, tentu bagi ketiga orang ini menulis mungkin sudah jadi makanan sehari-hari mereka. Sebut saja Andre Hirata, katanya, sehabis bekerja dari PT Telkom Bandung dari pukul delapan sampai pukul lima sore ini akan menggunakan otak kanannya sehabis pulang kerja, wah, hebat sekali ya, kedua otaknya bisa jalan, sedangkan aku, sebelah saja sudah syukur.

Aku sangat ingat betul kata-kata apa saja yang diucap ketiga pembicara. Qaris tadjudin, mengungkapkan bahwa sebenarnya menulis itu gampang, akan tetapi reportase itu sulit. Pada intinya, menulis adalah untuk melatih kita berpikir logis. Menurut A. Loebis ”Tak ada tulisan yang buruk, yang ada hanyalah logika yang kacau”. Maka dari itu, kita harus terbiasa menulis, menulis harus seperti makanan, menjadi sebuah kebutuhan (gayya bener tulisan lo, Lil...emang lu kayak gitu?). Terutama adalah untuk berkomunikasi, bisa narsis sedikit nih, karena major study saya adalah komunikasi. Katanya, tulisan yang baik itu yang paling mudah dimengerti oleh pembaca yang awam sekalipun.

Masukan yang paling berharga dari Qaris Tadjudin yang berperawakan tinggi dan agak subur itu adalah –ini hal yang paling saya ingat- yaitu adanya New Journalism atau Literary Journalism, kalau di Indonesia disebut jurnalisme sastrawi. Nah, ini suatu gaya menulis berita dengan gaya menulis novel atau cerpen. Lil sih agaknya belum bisa seperti itu, apalagi menyaingi Truman Capote, pengusung New Journalism yang novelnya menggegerkan, In Cold Blood.

Beralih ke Oktian Arijito, mahasiswa kelahiran tahun 1986 memberikan tipsnya untuk kita, untuk mahasiswa yang biasanya berpikir ilmiah. Bagaimana cara menyalurkannya, menurutnya, ikutlah lomba-lomba penulisan. Kenapa? Ia menyebutkan beberapa alasan: dapat wawasan baru (Learning by doing), pengalaman baru (jalan-jalan gratis), membawa nama diri sendiri dan khusunya Universitas di mana kita bernaung, dapat hadiah plus uang saku, banyak teman, ketemu sama orang-orang hebat (buktinya Oktian bisa sejajar dengan Andrea dan Qaris), dan ketika lulus, menjadi sarjana plus (with achievement gitu).

Terakhir, sang seniman kata-kata, “Aa Ikalku” Andrea Hirata. SUbhanallah, banyak sekali pelajaran yang dipetik dari hidupnya, dari bukunya dan dari caranya berbicara (karena terlalu Andrea addict mungkin-bukunya-). Pria lulusan S2 di Perancis dan Inggris dengan ciri khasnya memakai bet hitam (Topi bundar khas seorang seniman atau penyair) ini tampak segar. Ia datang agak terlambat, kemungkinan besar baru saja menghadiri sebuah acara dan sehabis seminar UI ini pun ia ada acara lagi (Aa, saya maklum kok…he…he…jam terbang artis kan tinggi). Setiap kata yang di keluarkan Andrea seperti kata-kata mutiara yang perlu saya catat, penuh dengan isi. Tentunya tidak bisa saya sebutkan semua di sini karena saking banyaknya. Di antara yang saya ingat adalah: ”Sebuah karya yang baik adalah setiap paragrafnya mengandung possibility (bobot)”, ”Mulailah menulis untuk memuaskan diri sendiri”, ”Jangan menggambarkan seorang tokoh dari fisiknya saja, cobalah lihat setting di mana dia berada”, ”Apa yang dianggap bagus dalam sebuah buku bukan lagi kerangka tekstualnya, tetapi pembaca bisa melihat dirinya dalam buku tersebut” dan bla, bla, bla...lainnya, banyak sekali.

Terakhir banget nih, kalau kata Kahlil Gibran, ”Hidup memang kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan, dan semua hasrat dan keinginan adalah buta jika tidak disertai pengetahuan”. Maka, mulailah dari membaca...!

satu tahun lalu, 22 Feb 2008
Wisma Citra Islamic 2, IPB, Bogor

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Maka, mulailah dari membaca...!"

Post a Comment

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)