Dunia Lingga

Jangan jadi Kartini

Kepada para Ibu pendidik yang telah bersungguh-sungguh, yang menjaga jati diri dan kehormatannya
Kepada setiap Ibu yang telah mendidik anaknya dengan nilai ketakwaan, membesarkan mereka di atas Sunnah, dan membuat mereka condong kepada nilai nilai luhur
Terimakasih
Terimakasih


Sepintas kalimat di atas yang saya kutip dari buku dengan judul Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia karya DR. Aid Abdullah al Qarni, tampak biasa saja. Tapi, apabila diresapi lebih dalam, kalimat tersebut mengandung sebuah kata yang mengandung sejuta makna indah untuk saya, anda ataupun kalian yang membaca tulisan ini. Ibu, ya, ibu. Seorang yang selalu memberi seutas senyum untuk saya, mungkin juga anda.

Ketika kita mengangkat tema diskusi mengenai ibu misalnya, tentulah tidak akan ada habisnya. Ibu mempunyai peranan yang begitu tak terhingga untuk membentuk generasi-generasi penerus yang cerdas dan tangguh. Yang mengajarkan anaknya dengan nilai ketakwaan tiada kiranya. Yang tentu saja, itu tidaklah mudah.
Seperti yang kita ketahui, kecerdasan seorang anak diperoleh karena bagaimana seorang Ibu memerlakukan anak tersebut. Maksudnya, dalam sebuah penelitian Dr. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, AS, faktor genetik cuma memiliki peranan sebesar 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan, termasuk ketika si anak masih dalam kandungan.
Jadi, lingkunganlah yang sangat memengaruhi tindak-tanduk anak itu nantinya. Bukan karena ayah atau ibu mereka pintar, tetapi lingkungan yang mengajarkan mereka menjadi generasi tangguh.

Setiap ibu menggendong "mandat" untuk menciptakan anak yang berpotensi cerdas agar kelak menjadi ”orang” (to be somebody). Banyak ibu di Indonesia masih belum mengerti akan pentingnya mengajari anak sesuatu yang mencerdaskannya, karena ibu tersebut memiliki pengetahuan dalam artian ”dangkal”. Bukan dalam kecerdasan intelektual saja, tetapi juga emosional.

Ya, tentu saja pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas mengajarkan anak-anaknya menjadi lebih ”pintar”, tetapi juga ia seharusnya mampu menempatkan diri untuk putra-putrinya. Seorang Ibu, ketika ia diminta menjadi seorang Ibu, jadilah ia Ibu yang tegas dan berkepribadian untuk anaknya. Ketika keadaan meminta ia untuk menjadi sahabat bagi anaknya, ia tidak segan-segan berubah untuk mereka. Ibu yang tidak saja sekedar dihormati, tetapi dicintai dengan segenap raga dan jiwa putra-putri mereka.

Dan yang peling penting, peran tersebut tidak dapat tergantikan oleh orang lain, baik itu seorang Ayah sekalipun –tidak bermaksud mengenyampingkan peran Ayah-. Dan berkali-kali saya tulis kembali, ibu yang dapat membangun generasi cerdas adalah ibu yang menjadi motivator untuk anaknya. Tentu saja sebagai motivasi untuk mengarah kepada kebaikan. Sebut saja Tumadhir binti Amr, atau yang biasa dipanggil Al Khansa yang hidup pada masa Rosulullah SAW. Ia menjadi motivator untuk ke empat putranya agar bersemangat berperang dan selalu menumbuhkan kecintaan syahid di jalan Allah. Sampai-sampai berita syahid ke empat putranya, ia hadapi dengan senyum. Ia berkata ”Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan menjadikan anakku sebagai syuhada. Agar Engkau mengumpulkan aku bersama di lautan surgaMu”
Begitulah sekiranya pengorbanan seorang ibu, ia tetap menjadi karang di lautan walau hatinya bermandikan kepiluan. Ia tetap berselimut senyum, walau duka di depan matanya. Pengorbanan yang dilakukan tersebut tentunya ia lakukan untuk membentuk generasi penerus ummat yang cerdas fisik dan emosional.

Dalam konteks kekinian, hal ini mungkin bukan sekedar motivasi untuk berperang dan berperang, tetapi memotivasi semangat mereka untuk membangun diri mereka sendiri. Saat jatuh, maka kau harus segera berdiri, kemudian segera berlari menyongsong hidupmu, mungkin hatinya berkata seperti itu.

Dan ibu pun berperan sebagai inspirator anak-anaknya. Walaupun terkadang, ia tidak setegar yang dibayangkan. Meski terlintas, ia tidak segentar yang diperlihatkan. Ia tetaplah seorang ibu yang mengemban tugas untuk mendidik anaknya menjadi muslim dan muslimah yang diselimuti iman.

Dan yang paling urgen ialah ketika seorang ibu mampu menangkap segudang ilmu –dunia maupun agama- kemudian dilimpahkan semua kepada anaknya. Alangkah bahagianya wahai diriku! Juga anda.
Saya teringat sepenggal lagu Iwan Fals yang berjudul Ibu, kalau tidak salah seperti ini:

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang kau berikan
Dengan apa membalas
Ibu...

Tulisan mungkin tidak mengungkap secara keseluruhan mengenai peran ibu bagi generasi cerdas, karena memang ribuan kata yang dibuncahkan tidak akan sanggup melukiskan sang ”matahari” ini. Dan kepada para remaja yang dalam waktu dekat atau tidak, yang akan menjadi seorang ibu. Maka, berbahagialah! Berbahagialah karena ada penghibur yang segera menghampiri anaknya dan membentuk mereka menjadi pribadi tangguh kebanggan keluarga, agama dan bangsa. Dia adalah anda, kaum wanita!Jadi mau jadi Kartini selanjutnya...tapim jadilah diri anda yng sebenarnya yang melebihi Kartini.. :D


wisma CI2, bogor, 2009

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan jadi Kartini"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)