Dunia Lingga

SELAMAT PAGI, CINTA

Mahasiswa. Kini status itu melekat dalam diri saya. Sungguh, sebenar-benarnya saya sangatlah senang. Menjalani aktivitas perkuliahan yang menyenangkan. Baik atau buruknya, haruslah diambil baiknya. Toh, menjadi mahasiswa kini tidak saja menjalankan aktivitas perkuliahan. Tetapi bagaimana caranya agar masa-masa ini menjadi “kenangan terindah” yang tidak akan dilupakan begitu saja.


Teringat ketika SMA, kenangan itu pun tidak akan surut dalam ingatan saya. Bagaimana “deg-degan” menghadapi ujian akhir.

Kembali ke mahasiswa. Mahasiswa adalah agen perubahan yang sedemikian rupa membawa pengaruh luar biasa dalam pembangunan. Ketika saya membaca buku karya Eka Budianta yaitu Senyum Untuk Seorang Penulis, ia menyebutkan bahwa jangan menunggu sukses berusia lanjut, tetapi rangkailah sukses sejak usia dini. Di antaranya ketika kita menjadi mahasiswa seperti sekarang ini.

Saya mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Lia. Semangatnya begitu menggebu untuk berkuliah, meskipun ia hidup dari beasiswa. Kedua orangtuanya tidak sanggup membiayai semua perkuliahan. Yang ia lakukan adalah berusaha untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu dan tentu saja lulus dengan indeks prestasi memuaskan.

Tetapi apadaya, ia pun mempunyai keadaan fisik yang amat lemah. Aktivitas di bangku kuliah tidak ia “kawinkan” dengan kegiatan mahasiswa di luar kampus. Alhasil, ia hanya menjadi mahasiswa yang menikmati hanya kegiatan akademik kampus, tidak lain.

Nah, rekan mahasiswa semua. Contoh tadi hanya sekelumit problematika dalam kegiatan kampus. Ada yang ahli dalam bidang ini, tapi “loyo” di bidang lain. Yang penting yang harus ditekankan adalah, jalani semua itu dengan cinta.

Seperti yang dilakukan oleh seorang ayah untuk menjawab pertanyaan anaknya. Sang anak bertanya, “Ayah, matematika itu apa sih?” tanyanya manja. Sang ayah berpikir sejenak kemudian menjawab: “matematika itu..mencintai angka, mencintai hitung-hitungan,...” jawabnya. Kemudian si anak bertanya lagi, “kalau geografi itu apa Ayah?” tanyanya lagi. “Geo artinya bumi. Grafi artinya mencinta. jadi geografi artinya
mencintai bumi, mencintai laut, mencintai negara-negara, samudra…” ungkapnya lagi.

Wah, saya begitu terkesan dengan filosofi ini. Semua jawaban yang walaupun definisinya “kacau balau” tapi esensinya adalah kita hidup untuk mencinta. Mencintai apa yang kita punya dan usahakan untuk mempertahankan dan mengembangkan cinta itu.

Menjadi mahasiswa pun seharusnya seperti itu. Menjalankan segala aktivitas dengan cinta pada aktivitas yang dilakukan. Tidak ada keluhan, rengekan dan sikap pesimis. Jikalau memang kita pernah merasakan keterpurukan tersebut. Misalnya, nilai akademik jauh merosok, aktivitas di luar kampus (seperti mengikuti UKM-UKM) tidak terkendali. Kita tidak boleh jatuh ke lubang yang sama.

Seperti yang saya rasakan saat ini, bahwa adakalanya kita terlempar dan menjadi asing saat itu juga. Saya torehkan dalam sebuah tulisan. Kendatipun saya tidak mengerti apa yang saya tulis, tapi itu menjadi “dokumentasi pribadi” untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi pada saya.

Ya, menjadi mehasiswa yang saya sadari kini, bukan hanya hidup dalam segitiga Bermuda. Kampus, Kantin, Kasur saja. Tetapi jadikanlah masa ini hal yang paling berkesan, hal paling menakjubkan dalam hidup kita. Sehingga apabila nanti saya menceritakan kisah saya pada anak dan cucu, bukan hanya cerita Si Kancil dan Buaya. Namun, cerita yang memberi inspirasi dan membuat mereka tahu bahwa, Nak, hidup ini indah…pabila kita pergunakan untuk mencintai hidup kita.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SELAMAT PAGI, CINTA"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)