Dunia Lingga

Banjir Negeri Kami

TRADISI BANJIR SALAH SIAPA?

Banjir negeri kami

Kami negeri banjir

Kalau tidak banjir

Bukan negeri kami

Inilah yang terjadi pada bangsa ini. Bencana –dalam hal ini banjir- di mana-mana, di kota maupun desa. Di tempat kumuh atau yang elit sekalipun. Bangsa ini masih saja harus menelan pil pahit bencana alam yang setiap saat mengintai. Setelah bencana yang satu, muncul bencana yang lain.

Bangsa ini memang multibencana. Seakan-akan menjadi sebuah ritual tahunan dan menjadi tradisi yang harus dihadapi.

Banjir Febuari 2007 di Jakarta dan sekitarnya kali ini misalnya, banjir yang lebih besar dari tahun 2002 lalu seharusnya mampu diantisipasi dan kalaupun sudah terjadi harus diatasi secara baik. Toh, kenyataannya kali ini meleset. Seolah-olah wakil negeri ini menutup mata dan telinga untuk bergotong royong mengatasi masalah yang sudah terjadi sejak jaman penjajahan Belanda.

Mirisnya, seorang menteri negeri ini berkata kalau tak salah seperti ini: “Ini bisa diatasi kok! Toh, korban banjir masih bisa tertawa”. Sungguh benarkah perilaku seperti ini? Sangat disayangkan. Ketika rakyat Jakarta, Tangerang, Bekasi dan daerah-daerah yang terkena bencana alam lainnya harus berjuang dan terus berjuang untuk hidupnya, seorang pejabat tinggi mengatakan hal yang tidak pantas.

Memang ini bukan perkara mudah, bukanlah perkara yang sulit untuk diatasi. Karena ibukota tercinta ini memiliki topografi yang unik, yaitu berada di bawah permukaan laut, yang besar kemungkinan untuk terjadi banjir. Wilayah Kampung Melayu, Bidara Cina, Kramatjati, Cipinang, Cimanggis, Tanah Abang, dan Pancoran hanyalah sebagian wilayah yang menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba. Belum daerah-daerah lain dulu tak terendam kini ikut terendam pula.

Berkaca dari banjir tahun lalu, pemerintah hanya mengedepankan langkah –langkah mengatasi, bukan mencegah bahaya ini agar tidak terjadi kembali. Pemerintah seharusnya tanggap, sigap dan memegang komitmen untk menyelesaikan masalah ini. Dengan konsisten, sistematik, integrative dan komphrehensif, seharusnya menjadi konsep penanganan semua bencana alam bangsa ini.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun memegang andil besar. Hendaknya petuah “simpan sampah pada tempatnya” bukanlah omong kosong belaka. Satu hari ingat, keesokan harinya baik sengaja atau tak sengaja dilupakan. Menjaga lingkungan bukan lagi tanggung jawab LSM, pemerintah atau institusi lainnya, tetapi KITA saudara! Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau mau ditelaah, sebenarnya, ini salah siapa? Masing-masing dari kita menyalahkan yang lain. Ya mbok seharusnya masing-masing dari kita sadar bahwa sebenarnya kitalah yang membuat kerusakan, baik di laut atau darat.

Ini teguran yang menjadi renungan untuk menjadi lebih baik. Tanpa kesadaran kita semua, hujan bencana tidak akan ada henti-hentinya merongrong bangsa ini!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Banjir Negeri Kami"

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberi komentar di dunia lingga. Tabiik :)